POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Neka Art Museum (NAM) akan menggelar forum diskusi bertajuk “Indonesian Wave versus Global Wave in Cultural Industry”, Jumat (14/7/2025). Kegiatan ini bagian dari gerakan “Indonesia Wave-Jelajah Negeri, Budaya Bersemi”, sebuah inisiatif budaya yang bertujuan memperkuat kesadaran generasi muda terhadap nilai, akar, dan potensi kebudayaan Indonesia di tengah arus globalisasi.
Acara ini diinisiasi Neka Art Museum, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sejumlah tokoh turut ambil bagian, termasuk seniman, akademisi, budayawan, dan masyarakat umum yang peduli terhadap masa depan kebudayaan nasional.
Pande Made Kardi Suteja, mewakili Neka Art Museum, menyampaikan, museum dengan senang hati membuka ruang bagi diskusi budaya, demi memperkuat posisi budaya Indonesia di tengah persaingan global.
Forum ini berlangsung di Ubud, Gianyar sejak Februari 2025, dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kebudayaan yang digelar secara berkelanjutan. “Ubud dipilih karena dikenal sebagai pusat kebudayaan yang aktif dan berpengaruh di Indonesia,” ujarnya, Kamis (12/6/2025).
Di era digital ini, dia berujar arus budaya asing masuk begitu cepat melalui media sosial, hiburan, hingga gaya hidup, sehingga budaya lokal perlahan terpinggirkan. Forum ini muncul sebagai wujud kegelisahan sekaligus harapan terhadap pentingnya menjaga, mengembangkan, dan memperkuat budaya lokal sebagai identitas bangsa dan sumber daya nasional.
“Ini bertujuan menumbuhkan rasa bangga dan cinta generasi muda terhadap budaya Indonesia. Mendorong pelaku seni dan industri kreatif untuk mengangkat potensi budaya lokal dalam karya mereka,” jelasnya.
Forum ini dilaksanakan secara inklusif, melibatkan generasi muda, lansia, hingga penyandang disabilitas. Melalui lokakarya budaya, masyarakat diajak kembali terhubung dengan akar budaya mereka. Diskusi juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membentuk citra budaya Indonesia yang modern dan mendunia.
Salah satu narasumber, budayawan nasional, Tubagus Andre Sukmana, menilai diperlukan strategi untuk menghadapi derasnya pengaruh budaya asing. Dia menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas dalam mempertahankan budaya lokal. Generasi muda harus dilibatkan secara aktif dalam gerakan ini, dengan tetap terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas.
“Perlu kontribusi generasi muda, kesadaran akan akar budaya, serta tidak alergi terhadap budaya asing. Yang penting, kita memiliki filter dan rasa bangga terhadap budaya sendiri,” ulasnya.
Benito Lapulalan, selaku moderator forum, menegaskan pentingnya pembinaan kebudayaan dari hulu ke hilir, mulai dari pelaku seni, museum, sanggar, hingga data budaya daerah yang seringkali terlupakan. Dia juga menyoroti Indonesia memiliki payung hukum tentang pemajuan kebudayaan, yang harus dimanfaatkan secara optimal.
Gerakan Indonesia Wave bukan sekadar program, melainkan sebuah panggilan kolektif untuk kembali “menjelajah negeri”, mengenal, mencintai, dan memelihara budaya lokal sebagai inspirasi masa depan. Di tengah tantangan globalisasi, budaya Indonesia tidak boleh hanya menjadi artefak museum, tetapi harus menjadi denyut kehidupan yang terus berkembang di tengah masyarakat. adi
























