Haii… Rakyat Bali Disiplinlah!

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

SEORANG pasien Covid-19 (saya tidak menyebut nama) – yang sudah sembuh – dan kembali ke masyarakat bercerita  bahwa ia sangat menderita ketika berada di rumah sakit. Dada sakit, sesak nafas, batuk-batuk, mulut pahit, semua makanan tidak ada rasa. Selain itu dahak kental seperti menyumbat di kerongkongan dan dada. Pokoknya menderita sebagai pasien Covid-19.

Begitu lolos dari penderitaan tersebut, dapat izin pulang, ia langsung sembahyang ke pemerajan (sanggah) rumahnya.  Matur sukseme ring Ide Batara leluhur (berterima kasih kepada leluhurnya di sanggah). Ia lega, kembali dapat menikmati hidup seperti orang normal.

Bacaan Lainnya

Apa sarannya begitu kembali ada di tengah-tengah masyarakat? Sama seperti harapan pemerintah. Diam di rumah, bekerja dari rumah, dan berdoa di rumah.

Ia menyadari  cara itu akan menyulitkan bagi mereka yang mencari penghidupan harian. Harus keluar rumah. Jika tidak, artinya tidak bisa makan.

Nah,  di sinilah kewajiban pemerintah memberikan bantuan. Kehadiran negara (pemerintah) penting bagi masyarakat yang memerlukan bantuan kepada rakyatnya yang sedang mengalami kesulitan.

Tetapi di balik itu harus dipahami, pemerintah juga memiliki keterbatasan. Tidak sembarangan dapat mengeluarkan dana dari anggaran yang sudah ditentukan sebelumnya. Diperlukan sejumlah regulasi turunan, sekalipun pemerrintah pusat memberikan edaran sejumlah dana dapat dialihkan untuk menanggulangi wabah Corona. Ternyata dalam pelaksanaannya tidak mudah, padahal dalam keadaan darurat.

Baca juga :  Hadang Penyebaran Corona, Ini yang Dilakukan Satgas Covid-19 Desa/Lurah di Denpasar

Kondisi ini sering tidak dipahami masyarakat. Maka muncul sejumlah kritikan dan keluhan-keluhan seperti pemerintah terlambat dan lelet.  Namun itulah kenyataan, sulit diterobos kalangan birokrasi. Belum lagi dana-dana yang akan dipakai jeblok di mana-mana, karena Corona tersebut memporakporandakan semua aspek kehidupan rakyat.

Saya yakin tidak ada pemerintah sengaja menyengsarakan rakyatnya. Semua akan diatasi dengan berbagai cara dan strategi.

Memang ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan rezim sekarang dan berusaha mencari berbagai celah guna menjatuhkan kekuasaan. Mereka malah berharap supaya makin banyak korban Corona, makin banyak yang mati, makin banyak kelaparan, makin banyak yang protes. Tujuannya menjatuhkan pemerintahan di mata rakyat. Mereka buat fitnah, melalui berbagai media sosial dilandasi dengan kebencian dan iri hati.

Anehnya, hal ini hanya terjadi di Indonesia. Di sejumlah negara di mana Corona juga mengganas, tidak ada rakyat menuntut Presiden mundur, nyinyir menyalahkan ini dan itu. Termasuk di Amerika Serikat, di mana korban Corona paling dasyat di dunia, di mana rakyat paling bebas (liberal) dalam berdemokrasi. Tidak ada tuh…. rakyat koar-koar salahkan Presiden dan menuntut mundur segala.

Oke, atas dasar pengalaman seorang pasien dalam awal tulisan ini,  saya berharap (sebagaimana harapan pemerintah), mari kita lebih disiplin. Disiplin pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, diam di rumah dan seterusnya.

Baca juga :  Lihadnyana Pimpin Sidak Masker dan Penyemprotan Disinfektan di Dalung

Pengalaman berharga kita peroleh dari sebuah desa di Bangli, di mana sebagian (sangat banyak) masyarakat kena wabah Corona karena dianggap kurang disiplin.

Saya tidak menyembut angka. Jumlahnya sangat memprihatinkan (mengerikan), korban begitu banyak setelah mengikuti rapid test. Sungguh sangat menyedihkan.

Saya harap ini yang terakhir di Bali. Jangan ada lagi di desa lain!  Haii … rakyat Bali ayo, kita disiplin…!

[Made Nariana, wartawan SK POSBALI]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.