POSMERDEKA.COM, LOBAR – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, mengunjungi Sekolah Rakyat Rintisan Sentra Paramita Mataram yang berlokasi di wilayah Labuapi Lobar, Senin (14/7). Kunjungan tersebut untuk memastikan kesiapan Sekolah Rakyat tersebut usai renovasi oleh Kementerian PUPR
Didampingi Kepala Sentra Paramita Mataram, Arif Rohman; dan Kepala Dinas Sosial Lobar, Lalu Winengan, Dody Hanggodo sempat berdialog dengan siswa SMP di Sekolah Rakyat. Dody juga mengunjungi setiap bangunan dan ruangan guna memastikan kesiapan sekolah beroperasi. ”Saya berharap, karena ini kami cuma membangun, perawatannya nanti dari Kementerian Sosial dan Dinas Sosial di daerah,” ungkapnya kepada media.
Menurut Dody, Sekolah Rakyat di Sentra Paramita Mataram itu berstatus sebagai sekolah rintisan. Artinya, para siswa yang bersekolah di sini hanya bersifat sementara. Nanti mereka akan dipindahkan ke Sekolah Rakyat yang baru di wilayah Kuripan Lobar.
Terkait rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kuripan, politisi Partai Demokrat itu menegaskan akan dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 9 hektar. Nilai anggarannya di kisaran Rp200 miliar hingga Rp300 miliar, bergantung luasannya. Untuk di Lobar sekitar Rp300 miliar. Dia berjanji pembangunan Sekolah Rakyat akan dilakukan sekitar bulan September, diawali dengan groundbreaking. ” September sudah mulai groundbreaking, Juni 2026 sudah selesai, wajib,” tegasnya memastikan.
Untuk renovasi Sekolah Rakyat di Sentra Paramita, Kementerian PUPR merogoh APBN sekitar Rp5 miliar sampai Rp6 miliar. Nilai anggaran total Rp100 miliar untuk seluruh Sekolah Rakyat di Indonesia. “Ini renovasi sedang dan ringan, jadi anggarannya sekitar Rp5 miliar sampai Rp6 miliar,” pungkasnya.
Arif Rohman menyebut kunjungan Menteri PUPR merupakan kunjungan tiba-tiba. ”Ini kunjungan tanpa persiapan, tapi kami ingin tunjukan bahwa peran PU sangat luar biasa dalam mewujudkan Sekolah Rakyat di Lobar,” ujarnya mengawali.
Awal digagas, dia mengakui keberadaan Sekolah Rakyat ini dianggap program mengada-ada. Namun, dalam 60 hari, targetnya bisa membangun dan selesai. Banyak yang khawatir, tapi akhirnya kekhawatiran itu tidak terbukti.
Sekolah Rakyat di Lobar ini, sambungnya, bertujuan memutus tali kemiskinan melalui jalur pendidikan. Dia memastikan di Sekolah Rakyat tidak ada biaya pendidikan. Dia yakin akan lebih banyak yang sekolah di Sekolah Rakyat, animo masyarakat akan tinggi. Apalagi asrama yang ada membuat masyarakat terkejut dengan fasilitas lengkap, ada bantal, meja belajar satu satu, ada lemari juga satu satu, kamar mandi standar internasional, bahkan ada shower.
Ada empat ruang kelas yang diisi masing-masing 25 siswa per kelas. “Di sini ada 100 siswa SMP yang sekolah, rencana satu tahun di sini, nanti akan dilanjutkan di Kuripan,” tutupnya.
Menurut Lalu Winengan, sesuai perintah Bupati Lobar, dia menyiapkan lahan seluas 8,8 hektar dari rencana awal 6,8 hektar. Sekolah Rakyat di Kuripan tersebut diharap bisa menampung 1.000 lebih siswa dari keluarga tidak mampu di wilayah Lobar. ”Karena memang sekolah ini untuk warga yang tidak mampu, sebagai salah satu upaya memutus rantai kemiskinan yang ada di Lobar,” tandasnya. ade
























