POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Gelombang tinggi yang terjadi pascagempa di wilayah Filipina Selatan mulai berdampak ke perairan Bali, termasuk sepanjang pesisir Kabupaten Gianyar. Ketinggian gelombang dilaporkan mencapai 2 hingga 3 meter, sehingga masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas berenang maupun mandi di pantai demi keselamatan.
Danton Balawista Gianyar, Wayan Hermanto, Selasa (9/6/2026), mengatakan, kondisi gelombang di perairan Gianyar sebenarnya mengalami peningkatan sejak akhir pekan lalu. Namun, setelah terjadinya gempa di Filipina Selatan, tinggi gelombang semakin meningkat, sehingga seluruh pantai di pesisir Gianyar ditutup untuk aktivitas mandi.
“Ini demi keamanan bersama. Kalau sekadar berjalan atau berlari di pantai masih diperbolehkan, tetapi untuk mandi atau berenang kami larang, karena gelombang sangat kuat dan berpotensi menyeret orang ke tengah laut,” ujar Hermanto.
Selain wisatawan dan masyarakat umum, imbauan juga diberikan kepada para nelayan agar tidak melaut terlalu jauh ke tengah laut, sampai kondisi kembali normal. Meski demikian, masih ada beberapa nelayan yang tetap memaksakan diri melaut. “Ada empat nelayan yang tetap berangkat melaut, tetapi mereka kembali dengan hasil tangkapan yang sangat minim,” katanya.
Menurut Hermanto, saat ini sebenarnya sedang memasuki musim ikan karang, yang biasanya menjadi harapan nelayan pencari ikan dengan metode memancing. Namun, kondisi gelombang yang dipicu aktivitas gempa membuat ikan-ikan cenderung bersembunyi di sela-sela karang dan sulit ditangkap.
Balawista juga minta para penyedia jasa sewa perahu tidak melayani penghobi memancing ke laut selama kondisi cuaca dan gelombang belum stabil. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko kecelakaan laut.
Sebelumnya, pada April hingga Mei lalu, hasil tangkapan nelayan yang beroperasi di laut lepas cukup melimpah. Mereka banyak memperoleh ikan tenggiri dan wahu menggunakan teknik trolling. Dalam sekali melaut, nelayan bahkan bisa membawa pulang hingga 10 ekor ikan.
Harga ikan wahu saat ini berkisar Rp60 ribu per kilogram, sedangkan ikan tenggiri sekitar Rp50 ribu per kilogram, bergantung ukuran ikan yang diperoleh.
Sementara itu, nelayan pesisir yang menggunakan kano dan jaring kecil mulai kembali mendapatkan ikan lemuru, atau yang dikenal masyarakat sebagai pindang kucing. Setelah sekitar lima bulan mengalami paceklik, kemunculan ikan lemuru langsung disambut para pengepul dan pemindang lokal.
“Tingginya permintaan membuat harga ikan lemuru sekarang mencapai Rp50 ribu per kilogram. Begitu turun dari sampan, langsung diburu pemindang dan warga yang membeli untuk konsumsi,” tandas Hermanto. adi























