BULELENG – Kasus gangguan ginjal akut yang belakangan ini menyerang anak di bawah usia 18 tahun, mulai menjadi perhatian semua pihak. Menyikapi hal itu, DPRD Buleleng mendorong rumah sakit (RS) di Buleleng untuk melakukan persiapan dini. Ini sebagai langkah antisipasi mengingat kasus tersebut sudah terjadi di Bali.
Ketua DPRD Buleleng, Gede Supriatna, mengatakan, kasus ini harus menjadi perhatian bersama. Sebab, kasusnya terbilang fenomena baru dan harus dipelajari secara cermat. “Saya berharap para dokter atau rumah sakit di Buleleng mempersiapkan segala sesuatunya, agar lebih mendalami lagi seperti apa dan bagaimana penanganannya,” kata Supriatna.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau acute kidney injuries (AKI) pada anak di Indonesia mencapai 245 kasus, dan terjadi di 26 provinsi. Penyakit tersebut banyak menyerang anak usia 6 tahun sampai dengan 18 tahun.
Melihat kondisi yang ada, Supriatna minta RS di Buleleng melakukan studi atau penelitian sambil mempersiapkan alat-alat atau keperluan lainnya, yang mendukung untuk melakukan penanganan pasien gangguan ginjal akut.
Selain itu, Supriatna mengaku akan membahas pengadaan tempat untuk pelayanan cuci darah anak. Pertimbangannya, kasus di Bali terbilang cukup tinggi, sudah ada 11 anak meninggal akibat penyakit tersebut. Meski tempat untuk cuci darah sudah ada, tapi pelayanan cuci darah untuk anak masih ada.
Supriatna berjanji akan berkoordinasi dengan instansi terkait menyikapi pelayanan cuci darah untuk anak. “Ya, mudah-mudahan nanti dalam pembahasan, kami bisa diskusikan bersama instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, rumah sakit, Pj Bupati Buleleng agar paling tidak beberapa alat-alat untuk mesin cuci darah untuk anak bisa disiapkan,” sebutnya menandaskan. rik























