DENPASAR – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali mengajak gerakan mitigasi dan edukasi bencana melalui gerakan “Aksiku untuk Bumiku”, di Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Minggu (26/11/2023) pagi, bersamaan dengan kegiatan car free day (CFD). Aksi kali ini mengusung tema “Titik-Titik Koma-Koma, Sampah Plastik Mau Dibawa ke Mana?”. Rencananya tema ini akan berubah secara berkala setiap bulan saat dilangsungkan di Lapangan Renon.
Kegiatan diselingi senam zumba, bincang-bincang pengolahan sampah, berkreasi daur ulang dengan plastik serta pameran edukasi mitigasi bencana dari BMKG, BPDB Bali. Sejumlah kegiatan menarik diadakan, seperti permainan ular tangga jumbo guna mengaktifkan interaksi FPRB dengan masyarakat.
Kepala Pelaksanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Made Rentin, mengapreasi gerakan “Aksiku untuk Baliku” ini. “Pemanfaatan CFD ini baik, dan hari ini, tanggal 26, setiap bulannya menjadi hari simulasi,” katanya saat membuka gerakan FPRB di Lapangan Renon.
Dia berpesan agar kegiatan ini dapat dijadwalkan rutin dengan memanfaatkan CFD setiap Minggu pagi. Bagaimanapun, edukasi mengenai mitigasi bencana penting untuk terus digemakan, agar masyarakat menjadi sadar bencana dan Bali menjadi tangguh.
Usai senam zumba, peserta bincang-bincang mengenai pengolahan sampah dengan narasumber perajin sampah plastik dan relawan PMI, AA Istri Wahyuni; dan Koordinator Sai Green Indonesia, I Wayan Santi Adnyana. Mereka juga praktik memanfaatkan sampah bungkus plastik untuk anak-anak bermain ular tangga edukasi jumbo. Dalam permainan tersebut, mereka diajak memahami istilah dan apa saja yang perlu diperhatikan saat menemui bencana, misalnya gempa bumi, tanah longsor, tsunami.
Kegiatan FPRB ini melibatkan serta mengajak masyarakat, serta siswa taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga kampus-kampus serta kaum disabilitas. Selain itu juga merangkul wirausaha, lembaga pemerintahan maupun nonpemerintah (swasta) serta lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Ketua FPRB Bali, I Putu Suta Wijaya, menjelaskan “Aksiku untuk Baliku” ini merupakan aksi sinergi FPRB bersama multihelix. “Kami bergabung bersama menjadi relawan bersama berkontribusi untuk memperluas penyebaran pengetahuan serta pemahaman tentang pengurangan risiko bencana, dengan melakukan interaksi langsung dengan masyarakat umum dengan harapan Bali semakin tangguh bencana,” sebutnya.
Menurutnya, masyarakat perlu terus menerus diingatkan ancaman dan potensi bencana. Mereka harus paham bencana apa yang mengancam, seperti di daerah tempat tinggalnya, atau tempat kerja. “Tentu agar masyarakat sadar dan selamat dari bencana, penting kami memfasilitasi sinergi multihelix,” tambah Suta.
FPRB Provinsi Bali sebagai perkumpulan praktisi kebencanan yang diinisiasi tahun 2011, eksistensinya ada melalui berbagai kontribusi di bidang pengurangan risiko bencana. FPRB mendukung terselenggranya Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022.
Selain itu, FPRB juga menyediakan fasilitator untuk penyelenggaraan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Desa Tangguh Bencana (Destana), pembentukan Kampus Siaga Bencana (KSB), menyediakan personel untuk menjadi narasumber dalam program siaran radio yang berhubungan dengan kebencanaan , maupun acara seminar. Forum ini turut menginisiasi penyusunan peraturan daerah terkait kebencanaan. “Karena kebencanan itu urusan bersama, mari tangguh bersama agar selamat dari bencana,” ajak Suta.
Dengan berbagai persoalan kebencanaan yang masih ada, baik yang disebabkan alam, non-alam maupun ulah manusia, FPRB melibatkan berbagai komponen. Seperti tenaga pengajar, siswa, mahasiswa dan praktisi kebencanaan untuk mengagendakan memperluas kontribusi penyebaran pengetahuan risiko bencana. Puluhan orang tertarik dan aktif berinteraksi dengan permainan ular tangga serta tantangan membuat pantun lanjutan dari tagar FPRB : Titik-Titik Koma-Koma. hen






















