POSMERDEKA.COM, MATARAM – Proses evakuasi Juliana Marins (26), turis asal Brazil, yang mengalami kecelakaan saat mendaki Gunung Rinjani oleh Tim SAR selama lima hari, menuai kritik anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi. Politisi Nasdem Dapil Pulau Sumbawa itu menilai metode yang digunakan sangat tradisional.
Menurut Mori, cara penanganan SAR ini perlu perhatian karena masih manual dan tradisional. Meski menghargai proses di lapangan, dia minta perbaikan cara kerja Tim SAR. “Ini mohon maaf ya, bukan berarti kami tidak menghargai Bapak sudah menerjunkan helikopter ke lokasi,” ujar Mori saat rapat dengan Komisi V DPR dengan Basarnas dan BMKG di DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Ketua DPW Nasdem NTB ini mengingatkan Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M Syafi’i, bahwa saat ini teknologi sudah semakin maju. Mori mendorong Basarnas melakukan penguatan terhadap sistem informasi, teknologi, dan IT. Alasannya, ke depan seluruh sistem itu pasti akan tersentral dalam sistem interkoneksi di dalam IT. Ini titik yang dinilai perlu menjadi perhatian Kepala Basarnas.
“Mau kapan lagi Pak? Bencana-bencana ke depan ini mungkin nanti lebih pendekatan teknologinya, itu akan lebih bisa kita pergunakan dalam memanfaatkan situasi seperti ini,” pintanya.
Lebih jauh disampaikan, awalnya Juliana jatuh di kedalaman 100 hingga 200 meter. Lalu keesokan harinya kembali terjatuh semakin dalam mencapai 600 meter. Basarnas tidak bisa menerjunkan helikopter begitu saja, mengingat cuaca di Gunung Rinjani sangat ekstrem. Meski begitu, dia tetap melihat evakuasi terhadap Juliana sangat manual. Evakuasi korban dengan cara digotong oleh Agam itu ditekankan sebagai sangat manual. “Saya menghargai betul Kabasarnas sudah mengirim helikopter ke lokasi, helinya tidak bisa turun karena kabutnya begitu tebal,” tandasnya. rul
























