Endek Jangan Terjajah di Tanah Kelahiran, Fraksi PDIP Bali Siap Serap Produk Perajin

  • Whatsapp
PUTRI Suastini Koster didampingi perajin Nyoman Sudira mencoba membuat motif tenun ikat saat workshop Kreativitas Mendesain Endek Bali dengan Teknik Digital dan Harmoni Pewarnaan yang dilangsungkan DPD PDIP Bali, Minggu (6/6/2021). Foto: hen
PUTRI Suastini Koster didampingi perajin Nyoman Sudira mencoba membuat motif tenun ikat saat workshop Kreativitas Mendesain Endek Bali dengan Teknik Digital dan Harmoni Pewarnaan yang dilangsungkan DPD PDIP Bali, Minggu (6/6/2021). Foto: hen

DENPASAR – Masifikasi produk kain endek Bali yang justru dilakukan di luar Bali, melahirkan situasi perajin lokal jadi sulit berkembang. Jika keadaan ini tidak diatasi secara komprehensif, pelan tapi pasti kain tenun khas Bali akan punah karena tidak ada yang meneruskan berproduksi.

“Songket dan endek sudah terjajah di tanah kelahiran. Kita jangan lagi seperti itu,” seru Ketua Dekranasda Bali, Putri Suastini Koster, saat memberi sambutan pada workshop Kreativitas Mendesain Endek Bali dengan Teknik Digital dan Harmoni Pewarnaan yang dilangsungkan DPD PDIP Bali, Minggu (6/6/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Suastini, endek turun-temurun diproduksi dan akan ada senimannya. Yang pertama, kata dia, ada desain; kedua, ada yang menenun; ketiga, pewarnaan yang harmonis. Ketiga syarat itu dikuasai sepenuhnya oleh orang Bali. Karena tidak ada yang menanamkan cara melestarikan, sebutnya, songket dan endek kini terjajah di Bali, di tanah kelahiran sendiri. Untuk itu dia mengajak ada regenerasi perajin kain tenun ikat, yang dikanalisasi PDIP Bali dengan Lomba Desain Kreatif Motif Endek Bali.

“Saya bangga peserta banyak anak muda, tinggal yang tua membagikan ilmu dan desainer muda melanjutkan dengan ikut perkembangan zaman. Anak muda ini tidak gengsi ikut warisan menenun,” puji istri Ketua DPD PDIP Bali, I Wayan Koster, itu.

Baca juga :  BBPOM Denpasar Sidak Penjual Takjil di Bangli

Pentingnya melindungi kain khas Bali, sebutnya, karena kini produksi massal endek dipusatkan di Jepara, Jawa Tengah; situasi yang membunuh perajin lokal Bali. Nasib serupa dialami songket Palembang dan NTT. Bangkitnya kesadaran perajin dan masyarakat Bali jadi faktor penting untuk melindungi eksistensi kain khas ini, selain sinergi antara perajin dan pemerintah.

“IKM tidak mau menenun kalau produknya tidak laku, tapi UMKM kita mengambil dari luar. Ini bikin ekonomi Bali turun karena kita tidak cerdas menjaganya. Ketika produksi turun, perajin jadi malas dan alat tidak dipakai,” urainya.

Menjaga eksistensi endek, Suastini menilai harus dari dua sisi; dari penjual dan pembeli. Menimbang tingkat kesulitan membuat, dia mengajak pembeli menghargai perajin dengan tidak menawar harga terlalu rendah. Sebaliknya, perajin juga jangan memasang harga terlalu tinggi. Khusus soal desain, dia minta perajin jangan terlalu mengumbar rahasia ke orang luar.

“Seperti bikin lawar yang enak, rahasianya jangan diumbar, harus dikunci supaya tidak dicuri. Kalau ke anak-anak muda kita silakan dibagi,” ajaknya.

Koordinator Lomba Desain Kreatif Motif Endek Bali, Ketut Suryadi, berkata, rangkaian lomba untuk tindak lanjut Pergub 79/2018 itu dilangsungkan sejak Maret. Tiga peserta terbaik di tingkat kabupaten/kota ikut grandfinal di tingkat Provinsi, dengan karya harus dapat diimplementasikan membuat tenun ikat.

“Banyak desain bagus tapi belum bisa dipakai tenun ikat. Total ada 102 peserta dari seluruh Bali, dengan terbanyak dari Denpasar, ada 25 peserta,” terang Boping, sapaan akrabnya.

Baca juga :  AP I Bakal Wujudkan Bandara Ngurah Rai sebagai Bandara Ramah Lingkungan

Perajin kain endek, Nyoman Sudira, sebagai narasumber mengajak para perajin untuk tidak takut membuat desain yang berbau parpol. Bagi dia, desain yang sesuai dengan parpol tertentu sesungguhnya juga bagus sebagai media untuk memasarkan desain tersebut.

“Fraksi PDIP DPRD Bali akan memfasilitasi perajin diproduksi endek, untuk kami pakai seragam di DPRD,” imbuh Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya. “Motifnya tidak harus seragam,” imbuh Dewa Jack, panggilan akrabnya.

Untuk pemenang, motif Adaka Harum karya Esperansa Wanahak dari Buleleng menyabet dua juara sekaligus, yakni juara I dan juara favorit. Sementara juara II diraih Agus Indra Setyawan dengan karya Jalak Bali Jembrana, dan juara III direbut IGN Satria Brahmantra dengan karya Banteng Rejuna. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.