Binpres KONI Bali: Olahraga Prestasi Seperti PBSI Jangan Mempermaikan Aturan

KETUA Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Bali, Agung Bagus Tri Candra Arka. foto: ist

POSMERDEKA.COM, MANGUPURA – Kisruhnya dunia bulutangkis dalam menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2025, tidak terlepas dari permainan dan paran pengurusnya sendiri. Dalam membina olahraga prestasi, pembina atau pengurus cabang olahraga janganlah mempermainkan aturan. Namun bemainlah dengan aturan yang ada.

Demikian dikatakan Ketua Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Bali Agung Bagus Tri Candra Arka, ketika dikejar wartawan Selasa (20/5/2025). Sebelumnya pria yang akrab disapa Gung Cok ini mengelak memberikan keterangan lagi, namun karena diancam wartawan dengan UU Keterbukaan Informasi, Binpres KONI Bali itu akhirnya terbuka dalam memberikan keterangan soal PBSI Bali.

Bacaan Lainnya

Gung Cok mengatakan, gerahnya atlet dan orangtua atlet sampai melaporkan masalah kekisruhan di Pengprov PBSI Bali kepada anggota DPD asal Bali — Arya Wedha Karna (AWK) – merupakan hal yang patut disayangkan. Hal itu tidak perlu terjadi, jika Pembina olahraga baik KONI maupun cabornya dapat menyelesaikan dengan baik-baik.

“Kami sebagai bagian dari pengurus KONI Bali, malu dengan kejadian ini. Sebagai Binpres, saya sudah memberikan masukan, supaya masalah ini diselesaikan sesuai aturan. Aturan yang paling jelas, adalah petunjuk atau surat Pengurus Pusat PBSI. Surat itu dikirim PP PBSI atas permintaan Pengprov PBSI Bali. Dalam surat tersebut sudah jelas, bahwa atlet umur 23 tahun dipebolehkan ikut main dalam Porprov Bali,” ungkapnya.

Gung Cok yang juga anggota DPRD Bali itu mempertanyakan, bagaimana bisa aturan yang jelas dari pengurus pusatnya “dipermainkan” oleh Ketua Umum Pengurus Provinsi PBSI Bali, Wayan Winurjaya. Hal itu jelas melanggar ketentuan yang telah diberikan induknya di Jakarta, kecuali memang sengaja mau membelo dalam mengurus olahraga.

Ia menambahkan, Binpres KONI sebagai organ teknis Pengurus KONI sudah merencanakan bahwa Porprov Bali adalah ajang seleksi, dalam rangka mempersiapkan atlet untuk Babak Kualifikasi (BK) PON tahun 2027, guna menghadapi PON NTB/NTT tahun 2028.

“Saya sangat sedih jika atlet yang memiliki prestasi dikorbankan untuk kepentingan tertentu. Bayangkan bagaimana jika anda punya anak dikorbankan dan dibinasakan, pasti Anda marah,” pungkas pria asal Desa Kerobokan ini. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses