DENPASAR – Berstatus mantan Wali Kota Denpasar periode 2010-2020 dan calon Gubernur Bali pada Pilgub 2018, ikut sertanya Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dalam kontestasi DPD RI cukup memantik perhatian sejumlah kalangan. Salah satu isu yang mencuat, karena Pemilu dan Pilkada dilaksanakan serentak tahun 2024, akankah dia kembali meramaikan Pilkada Bali alias Pilgub?
“Sudah, saya tidak mau berandai-andai lagi soal Pilkada. Realita saja, nyatanya saya daftar DPD. Sudah, tidak boleh mancing-mancing lagi,” jawabnya dengan gestur kurang nyaman saat diajukan pertanyaan itu, usai menyerahkan syarat dukungan minimal bakal calon DPD RI ke KPU Bali, Kamis (29/12/2022). Sebelumnya, karena ada hal lain, Rai Mantra dua kali menunda kedatangan sesuai jadwal yang dijanjikan ke KPU.
Saat menyerahkan berkas dukungan, Rai Mantra didampingi sejumlah tim, termasuk mantan Kabag Humas Pemkot Denpasar, Erwin Suryadarma. Mereka diterima komisioner KPU Bali dipimpin Ketua I Dewa Agung Gede Lidartawan. “Selamat datang untuk bakal calon DPD RI,” sebut Lidartawan.
Pada kesempatan itu, anggota Bawaslu Bali, I Ketut Rudia, memaparkan lembaganya mengawasi seluruh tahapan Pemilu 2024, termasuk kampanye. Sebelum masa kampanye, calon peserta Pemilu tidak boleh kampanye dalam bentuk apa pun. Bawaslu tidak melarang sosialisasi bakal calon, tapi mengingatkan agar dilakukan di tempat yang dilarang tempat ibadat dan pendidikan.
Rudia juga berpesan sosialisasi jangan sampai menjanjikan sesuatu atau uang atau barang. Hal itu termasuk pidana pemilu. “Kami ingatkan supaya jangan ada seolah pembenaran jika itu dilakukan. Sampai ke tahapan kampanye, waktu masih panjang,” serunya disambut anggukan kepala Rai Mantra dan tim yang duduk di seberang Rudia.
Disinggung jumlah dukungan yang diserahkan, kepada awak media Rai Mantra menyebut terverifikasi sebanyak 2.947 dari 4.000 dukungan. Pertimbangan memilih jalur perseorangan, dia mengaku membidik untuk memperjuangkan budaya Bali bisa dimasukkan dalam regulasi sebagai sumber daya alam tak benda. Bali tidak memiliki sumber daya alam sebagaimana didefinisikan dalam regulasi, padahal budaya Bali menyumbang besar untuk devisa dari pariwisata.
“Bali punya budaya tak benda sebagai penggerak pariwisata budaya dan pendapatan devisa negara. Devisa pariwisata Bali nomor 2 setelah migas, dari 20 miliar dolar AS itu 50 persen dari Bali. Jadui, budaya itu sebagai sumber daya alam,” papar politisi berlatar belakang pengusaha ini.
“Ini perlu diperjuangkan kolektif sesama DPD. Mungkin itu jadi pembeda saya dengan (calon) DPD yang lainnya, tapi perlu direnungkan bersama,” sambung dengan nada optimis.
Menghadapi kompetitor petahana dan Geredeg yang juga mantan Bupati Karangasem dua periode, Rai Mantra menilai semua calon punya investasi sosial yang sama. Semua kontestan dipandang sama bagusnya, makanya sekarang bergantung publik memilih yang mana. Kualitas manusia, sebutnya, diukur dari keputusan yang dibuat. “Yang penting wartawan ikut dukung saya,” kelakarnya.
Berpijak dari perolehan suara saat Pilgub 2018, Rai Mantra tetap enggan menyebut taksiran target suara yang didulang kelak. Beralasan belum menghitung rerata perolehan suaranya di seluruh Bali, dia bernada menghindar menjawab soal target aman untuk lolos ke Senayan.
Bagaimana dengan gagasan berbagi suara sesama kontestan DPD seperti disuarakan Arya Wedakarna (AWK)? Berpikir sejenak, Rai Mantra kemudian tertawa kecil. Baginya, semua orang berhak mengeluarkan ide-ide. Namun, bila ingin merealisasikan berbagi suara, tentu perlu komunikasi dengan yang diajak kolaborasi. Pun harus ada titik temu satu sama lain.
“Teorinya harus ada titik temu satu sama lain, ini komunikasi ke DPD (lain) saja belum. Yang jelas saya berharap semua mendapat jalan baik,” pungkasnya. hen
























