HARIAN POS BALI dalam pemberitaannya Kamis, 4 Februari 2022, memberitakan di halaman olahraga, bahwa sejumlah daerah kini rebutan kembali ingin menjadi tuan ruman PON (Pekan Olahraga Nasional Indonesia).
PON memang perhelatan olahraga yang cukup seksi. Sangat menarik buat suatu daerah, atlet, insan olahraga dan masyarakat luas. Olahraga merupakan aktivitas semua orang. Dalam fisik yang kuat terdapat jiwa yang sehat.
PON XX sudah dilaksanakan di Papua tahun 2021. PON XXI akan dilaksanakan di Aceh dan Sumatra Utara (Sumut) tahun 2024. Tuan rumah ini ditetapkan dalam bidding PON (rapat khusus pengurus KONI untuk itu), enam tahun sebelum PON berlangsung. Saat itu ikut berebutan sebagai tuan rumah PON adalah Bali dan NTB.
Bali dan NTB kalah, bukan karena persyaratan sebagai tuan rumah kurang dibandingkan yang menang, tetapi karena kepentingan politik semata. Di olahraga juga ada politik!
Banyak suara muncul dalam bidding itu. Antara lain saya saksikan dan dengar: “Bali kan sudah maju. Kenapa ingin tuan rumah PON lagi. Sudah banyak orang ke Bali dan NTB. Mbok tuan rumah dikasi daerah lain, supaya juga dapat maju seperti Bali,” begitulah pandangan peserta bidding saat itu.
Jangankan hanya mengadakan PON. Bali sebagai tuan rumah kegiatan dunia saja tidak mundur. Banyak contoh, Bali sebagai tuan rumah aktivitas berkegiatan global berlangsung sukses. Apalagi sekarang dapat juga ditopang oleh NTB.
Oleh karena itu, Bali tidak perlu rebutan menjadi tuan rumah PON. Bali harus menolak acara bidding-biddingan guna menentukan tuan rumah PON di masa mendatang. Mengapa, hanya acara pemborosan, sebab siapa yang bakal menjadi tuan rumah, tergantung pemerintah pusat, Presiden lewat Menpora.
Bayangkan! Untuk melamar menjadi tuan rumah PON harus menyetor jaminan satu miliar rupiah (saat lalu). Membayar uang pendaftaran juga cukup banyak. Saya lupa jumlahnya tapi juga ratusan juta. Kalau tidak terpilih, uang jaminan memang kembali. Tetapi uang pendaftaran hangus.
Sebelum bidding daerah calon tuan rumah harus melakukan lobi ke 34 provinsi dengan biaya tinggi. KONI Pusat turun ke daerah mengecek calon tuan rumah, juga dengan biaya banyak. Kesannya supaya ada alasan, padahal hanya ingin jalan – jalan “melali ke sana ke mari”. Mudah-mudahan pendapat saya ini salah.
Kemudian Pusat melakukan bidding yang saya anggap hanya akal-akalan. Sebab yang terpilih, bukan yang fasilitas olahraga yang terbaik, namun daerah yang ingin dikembangkan supaya memiliki minimal prasarana olahrahga seperti GOR dan sebagainya. Jadi, buat apa bidding? Kan lebih baik langsung ditunjuk pemerintah pusat.
Catatan saya, banyak bekas tuan rumah PON, prasarana yang dibangun — kini mangkrak tidak bermanfaat. Prestasi atlet pun turun, tidak seperti saat menjadi tuan rumah PON.
Dalam pemberitaan Jumat minggu lalu, katanya sejumlah daerah pingin menjadi tuan rumah PON. Daerah itu antara lain; Banten, Sulsel, Sulteng, Bali, NTB. Bahkan juga NTT. Keinginan ini baik-baik saja.
Tetapi mari tunjuk langsung siapa yang diinginkan pusat, supaya daerah tersebut maju seuasi PON. Tidak usah lewat bidding yang konon demokratis, tetapi nyatanya abal-abal dengan biaya miliaran. Uang itu antara lain dari uang pendaftaran calon tuan rumah…… dan APBD (daerah).
Sekali lagi, Bali tidak usah tergiur melamar sebagai tuan rumah PON. Bali sebaiknya menjadi ajang single event olahraga internasional, mendatangkan atlet seluruh dunia. Ajang itu sekaligus sebagai wahana meningkatkan kualitas atlet Bali dan mendukung program sport tourism. *) Penulis wartawan dan Ketua Umum KONI Badung, Bali.






















