DENPASAR– Menyikapi munculnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Bali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) Provinsi Bali melakukan berbagai upaya.
Kadistan Bali, I Wayan Sunada, menegaskan telah menangani serius dengan turun langsung. Salah satunya melakukan pemotongan bersyarat terhadap sapi yang diketahui terpapar PMK.
Sunada menuturkan, PMK yang terdeteksi kali pertama di Gianyar. Pihaknya langsung mengantisipasi dengan melakukan pemotongan bersyarat terhadap ternak tersebut.
‘’Untuk di Gianyar, kami sudah tuntaskan dengan pemotongan bersyarat sebanyak 38 ekor. Ini tidak stamping out yang artinya dimusnahkan. Tetapi, pemotongan bersyarat, dagingnya bisa kita manfaatkan,’’ jelasnya.
Kendati demikian, bagian leher hingga kepala, kemudian jeroan, kulit, dan kaki tidak dimanfaatkan. Akan tetapi dimusnahkan dengan cara dibakar. ‘’Langkah ini sangat efektif, dan di Gianyar tidak ada lagi ditemukan PMK. Ini sangat ampuh sekali,’’ jelas Sunada.
Terkait kasus PMK di Lokapaksa Buleleng yang terdeteksi sebanyak 24 ekor, kata dia sudah dilakukan pemotongan bersyarat. ‘’Untuk di Karangasem, kami juga sudah bergerak. Ini juga sudah kami laporkan saat rapat dengan pusat melalui zoom. Sudah tidak ada lagi PMK di Bali,’’ ungkapnya.
Tak terhenti sampai pemotongan bersyarat, Distan Bali juga akan melakukan langkah vaksinasi. Sunada menyebut, telah tersedia 110 ribu dosis vaksin PMK. Berikutnya juga akan dilakukan sterilisasi dengan menyemprotkan desinfektan secara ketat ke kandang, khususnya bekas tempat sapi terjangkit PMK.
Pemda juga melakukan penutupan pasar untuk menghentikan sementara pergerakan hewan seperti arahan Pemerintah Pusat.“Kami juga melakukan lokcdown pasar. Tidak ada pergerakan hewan ternak lagi. Apalagi antarpulau, sudah tidak ada lagi. Kita tuntaskan terlebih dahulu ternak-ternak kita yang terjangkit PMK,’’ tegas Kadistan Bali.
Dia juga mengatakan, daging sapi PMK saat ini tidak anjlok. Masih di kisaran harga Rp80 ribu lebih per kilogram. ‘’Tukang jagal kita siapkan jika peternak kesulitan melakukan pemotongan,’’ jelasnya.
Sunada menegaskan, PMK ini wabah sehingga harus segera diantisipasi. Jika virus ini mewabah, maka akan berdampak kepada sektor pariwisata.Karena, lanjut dia, virus ini menempel ke tubuh manusia. ‘’Ini yang harus kita hindari, virus ini menempel ke wisatawan kemudian dibawa ke luar negeri, itu yang harus kita hindari,’’ ujarnya.
Sunada mengungkapkan, kasus ini pertama kali ditemukan di Gianyar. Dari hasil penelusuran yang dilakukan, tidak ditemukan sapi yang masuk maupun keluar ke Gianyar. Namun tiba-tiba muncul PMK ini. ‘’Kemungkinan kasus ini dibawa manusia, dan juga kemungkinan dari alat angkut. Ini kan virus, mudah dibawa angin, dan mudah penularannya,’’ bebernya.
Sementara itu, dari Jembrana dilaporkan, mengantisipasi PMK pada hewan ternak, Pemkab Jembrana mengintensifkan penyemprotan disinfektan. Disamping itu, petugas kesehatan hewan rutin melakukan komunikasi dan edukasi kepada peternak dan kelompok ternak dengan menerjunkan penyuluh peternakan dan dokter hewan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, setelah memantau langsung penyemprotan disinfektan dan kesehatan ternak sapi di Kelompok Upo Sarinadi Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Rabu (6/7/2022).
Edukasi kepada masyarakat peternak dan kelompok khususnya para peternak sapi kali ini dilakukan mengingat populasi sapi di Jembrana saat ini cukup besar sekitar 35 ribu ekor. Langkah pencegahan ini juga bersinergi dengan Polres Jembrana melalui monitoring danpenyemprotanpada hewan hewan ternak yang masuk Bali dari Pelabuhan Gilimanuk.
‘’Ada beberapa titik penyemprotan disinfektan yang sudah dilakukan. Ini bentuk pencegahan meluasnya PMK dengan terjun langsung kekandang kandang peternak. Secara intensif penyemprotan disinfektan akan terus berlanjut, demikian juga vaksinasi,” kata Bupati Tamba.
Tamba mengatakan, untuk stok vaksin juga sudah tiba di Jembrana sehingga vaksinasi juga akan dilakukan pada hewan ternak. ‘’Kita intensifkan penyemprotan, pemberian vitamin maupun vaksin sampai kondisi PMK di Bali dinyatakan aman,’’ jelasnya.
Ia pun meminta dukungan masyarakat maupun kelompok-kelompok yang memelihara ternak khususnya sapi. Baik itu dengan menjaga kebersihan ternak dan kandangnya, maupun sikap kooperatif melaporkan kepada petugas jika muncul gejala gejala pada hewan ternak.
‘’Kami bersyukur masyarakat sangat kooperatif sekali, mau melaporkan dan berkoordinasi dengan petugas terkait kondisi hewan ternaknya. Kondisi ini jelas sangat membantu dari sisi pencegahan. Jadi, terbuka tidak justru disembunyikan kondisi ternaknya karena takut,’’ tegas Tamba.
Hal senada diungkapkan Kapolres Jembrana, AKBP I Dewa Gede Juliana. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan jajaran satgas dengan mendirikan posko di Pelabuhan Gilimanuk. Antisipasi lainnya dilakukan jajaran kepolisian dengan menerjunkan bhabinkamtibmas untuk monitoring dan edukasi wilayah.
“Masing-masing telah mendapatkan pelatihan dan dibekali buku saku. Di lapangan mereka akan berkoordinasi dengan pihak dinas khususnya dalam mengawal vaksinasi pada hewan ternak,’’ pungkasnya. alt/man























