Tarian Mohinī: Karena Avidya Bhasmasura Akhirnya Memakan Diri Sediri

Dr. I Ketut Suardana/ foto: ist

Akibat Amerta, Karma, dan Gejala Kali-yuga

KISAH Bhasmāsura memperlihatkan bahaya kekuatan yang tidak disertai kebijaksanaan. Setelah memperoleh kesaktian dari Śiva, Bhasmāsura merasa dirinya tak terkalahkan. Ia bahkan hendak menguji kesaktiannya pada Śiva, sang pemberi anugerah.

Dalam versi kisah yang populer, Viṣṇu datang dalam rupa Mohinī. Bhasmāsura terpikat oleh tariannya dan mengikuti setiap gerakannya. Ketika Mohinī meletakkan tangan di atas kepalanya, Bhasmāsura meniru gerakan itu. Kesaktiannya berbalik kepadanya: ia binasa oleh kekuatan yang semula ia banggakan. Rincian kisah ini berbeda-beda dalam tradisi penceritaan dan pertunjukan.

Mohinī tidak mengalahkan Bhasmāsura dengan kekuatan yang lebih besar. Ia membiarkan kesombongan dan hasrat Bhasmāsura menuntunnya menuju kehancuran. Tarian itu menjadi cermin: Bhasmāsura sendiri yang melakukan gerakan terakhir yang mencelakakannya.

Di sinilah inti peringatannya: kerakusan dapat membuat seseorang menjadi korban dari kekuatannya sendiri. Kesaktian Bhasmāsura dapat menjadi lambang kekayaan, jabatan, kecerdasan, teknologi, atau pengaruh. Semua itu dapat membawa manfaat jika digunakan dengan tanggung jawab. Namun, bila dipakai untuk menipu, menekan, menguasai, atau memperkaya diri dengan merugikan orang lain, kekuatan itu dapat menjadi sumber kehancuran bagi pemiliknya dan masyarakat.

Amerta yang diperebutkan
Kisah pengadukan Samudra Susu menghadirkan renungan tentang hasil yang dicari bersama. Para dewa dan asura bekerja bersama untuk memperoleh amerta. Ketika kendi amerta muncul, para asura merebutnya dan berselisih tentang siapa yang berhak meminumnya lebih dahulu. Viṣṇu kemudian menjelma sebagai Mohinī. Para asura terpikat dan menyerahkan pembagian amerta kepadanya; Mohinī lalu membagikannya kepada para dewa.

Kisah ini berbeda dari kisah tarian Mohinī dan Bhasmāsura, tetapi keduanya dapat direnungkan berdampingan. Yang satu menggambarkan kesombongan yang berbalik menghancurkan pemiliknya; yang lain memperlihatkan bagaimana hasil yang dicari bersama dapat berubah menjadi rebutan.

Sebagai perumpamaan masa kini, samudra dapat menggambarkan kekayaan bersama: uang publik, tanah, hutan, laut, hasil tambang, dan kesempatan ekonomi. Pengadukan melambangkan kerja banyak pihak yang menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Amerta melambangkan kesejahteraan yang semestinya dinikmati bersama.

Korupsi terjadi ketika orang yang diberi amanah mengelola hasil bersama justru mengambilnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Segelintir orang menikmati keuntungan, sementara masyarakat menanggung akibatnya: pelayanan publik yang buruk, lingkungan yang rusak, ketidakadilan, kesenjangan, dan hilangnya kepercayaan.

Dalam kisah pengadukan samudra, racun Kālakūṭa mengancam kehidupan dan ditelan oleh Śiva. Sebagai renungan sosial, racun itu dapat melambangkan dampak penyalahgunaan kekuasaan. Pihak yang menikmati hasil belum tentu menanggung akibatnya; sering kali masyarakatlah yang menerima beban paling berat.

Gejala Kali-yuga
Śrīmad-Bhāgavatam 12.2 menggambarkan gejala Kali-yuga: kekayaan dijadikan ukuran kehormatan, hukum dan keadilan tunduk kepada kekuasaan, tipu daya menjadi jalan menuju keberhasilan, dan kepandaian bermain kata disangka sebagai kebijaksanaan. Bab itu juga memperingatkan tentang penguasa rakus yang bertindak seperti pencuri terhadap rakyat.

Gambaran itu terasa dekat ketika kekayaan dianggap bukti kebajikan, jabatan dianggap tanda kebenaran, dan kelicikan dipuji sebagai kecakapan. Korupsi dapat disamarkan dengan istilah yang terdengar wajar—komisi, hadiah, uang pelicin, atau biaya pengurusan. Namun, nama yang berbeda tidak mengubah hakikatnya: amanah dikhianati dan milik bersama dialihkan untuk keuntungan pribadi.

Ambisi untuk maju bukanlah kesalahan. Pengusaha dapat membangun usaha dengan jujur, membuka lapangan kerja, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Pemimpin dapat menggunakan kecakapan politik untuk melayani rakyat. Yang merusak ialah ambisi yang menghalalkan segala cara dan memperlakukan kekuasaan seolah-olah milik pribadi.

Karma dan akibat perbuatan
Ajaran karma memberi kedalaman pada kisah Bhasmāsura. Kesaktiannya menjadi anugerah yang ia terima, tetapi cara ia menggunakannya melahirkan akibat baru. Ia memakai kekuatan untuk mengancam, lalu terkena oleh kekuatannya sendiri. Bhagavad-Gītā 4.17 mengingatkan bahwa tindakan, tindakan yang keliru, dan ketidakbertindakan perlu dibedakan; jalan dan akibat tindakan tidak selalu sederhana.

Karma tidak perlu dipahami sebagai hukuman yang selalu datang seketika. Akibat suatu tindakan dapat muncul dalam banyak bentuk dan waktu. Dalam korupsi, akibatnya nyata bagi masyarakat: hak pelayanan hilang, pembangunan terhambat, alam rusak, dan kepercayaan runtuh. Pelakunya pun menanam akibat bagi dirinya sendiri—risiko hukum, hilangnya kehormatan, rusaknya hubungan, dan beban batin.

Dengan demikian, karma bukan hanya soal akibat yang kelak diterima pelaku. Ia juga mengingatkan bahwa setiap tindakan ikut membentuk keadaan bersama. Perbuatan yang lahir dari keserakahan dapat merusak banyak kehidupan, sedangkan tindakan yang berlandaskan tanggung jawab dapat menumbuhkan kepercayaan dan kesejahteraan.

Kekuatan yang berbalik menghancurkan
Bhasmāsura, perebutan amerta, ajaran karma, dan gambaran Kali-yuga bertemu dalam satu peringatan: keserakahan mendorong tindakan yang merusak; akibatnya menimpa masyarakat dan dapat berbalik menjerat pelakunya.

Korupsi bukan sekadar uang yang hilang dari kas negara. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah dan perampasan kesejahteraan masyarakat. Pelakunya mungkin memperoleh harta dan kedudukan untuk sementara, tetapi tindakannya meruntuhkan kepercayaan dan meninggalkan kerusakan yang harus ditanggung banyak orang.

Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya harta yang dikumpulkan atau tingginya jabatan yang diraih. Kita perlu bertanya: bagaimana kekayaan itu diperoleh, siapa yang menikmati hasilnya, dan siapa yang menanggung akibatnya?

Tarian Mohinī mengingatkan bahwa kerakusan dapat menjerat seseorang melalui tindakannya sendiri. Amerta yang lahir dari kerja bersama seharusnya membawa kesejahteraan bagi banyak orang. Jika hanya segelintir pihak yang menikmatinya sementara masyarakat menanggung racunnya, kekuasaan telah kehilangan dharma.

Ambisi harus dituntun kebijaksanaan. Kekayaan harus dijaga dengan tanggung jawab. Kekuasaan harus tunduk pada keadilan. Tanpa itu, manusia dapat berakhir seperti Bhasmāsura: binasa oleh kekuatan yang ia gunakan tanpa kendali. (Penulis adalah pemerhati budaya dan juga dosen tidak tetap Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.