Tak Punya Jaminan Kesehatan, Nunggak Biaya Rumah Sakit, Jenazah Pulang Diangkut Pikap

  • Whatsapp
JENAZAH Gede Seni diangkut dengan pikap dari RSUD Buleleng menuju rumahnya pada Sabtu (23/1/2021) karena tidak ada biaya membayar ambulans. Foto ini sempat viral di medsos. Foto: ist
JENAZAH Gede Seni diangkut dengan pikap dari RSUD Buleleng menuju rumahnya pada Sabtu (23/1/2021) karena tidak ada biaya membayar ambulans. Foto ini sempat viral di medsos. Foto: ist

BULELENG – Sungguh miris yang dialami keluarga almarhum Gede Seni warga Banjar Dinas Pasek, Desa Kubutambahan, Buleleng. Pasalnya, selain keluarga almarhum menunggak biaya perawatan di rumah sakit lantaran tidak menggunakan jaminan kesehatan, jenazah Gede Seni juga dibawa kendaraan pikap dari RSUD Buleleng menuju rumahnya pada Sabtu (23/1/2021) karena tidak ada biaya membayar ambulans.

Kisah miris yang dialami keluarga almarhum Gede Seni pun viral di media sosial (medsos) Facebook, yang mendapatkan tanggapan beragam dari sejumlah akun facebook. Sementara suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Gede Seni. Rencananya, almarhum Gede Seni akan dimakamkan pada Selasa (26/1/2021).

Bacaan Lainnya

Istri almarhum Gede Seni, Ketut Suryani mengatakan, almarhum suaminya didiagnosis mengalami infeksi paru-paru sejak tujuh bulan lalu pascaberhenti merokok. “Dirawat di rumah sakit sejak 13 hari lalu. Masuk RS Bali Med 11 Januari dan dirawat selama 5 hari, setelah itu dipindah ke RSUD Buleleng pada Sabtu 16 Januari. Meninggalnya Sabtu kemarin,” kata Suryani.

Terkait pemulangan jenazah suaminya dengan menggunakan mobil pikap, Suryani mengaku tidak mengetahuinya karena proses pemulangan jenazah suaminya diurus oleh mertua. Pasalnya, saat suaminya meninggal pada pukul 09.00 Wita, dirinya masih menjaga anaknya di rumah.

Baca juga :  Tingkatkan Penerapan Prokes, Desa Sidakarya Gencarkan Sosialisasi Disiplin Penggunaan Masker

‘’Tidak bisa membayar ambulans, karena bayar Rp800 ribu, makanya pulangnya pakai pikap biar cepat. Biaya perawatan masih hutang di rumah sakit Bali Med Rp7 juta dan di RSUD Buleleng sekitar Rp10 juta,” ujar Suryani.

Suryani pun berharap, ada donatur yang membantu melunasi beban biaya di dua rumah sakit tersebut. “Saya harap ada donatur, agar bisa meringankan beban biaya utang di rumah sakit. Saya masih punya anak kecil baru berusia 7 bulan dan tidak bekerja,” ungkap Suryani dengan nada sedih.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, SpPD., tak menampik, jika almarhum Gede Seni masuk kategori pasien tidak mampu dan tidak memiliki jaminan. Sehingga pembayarannya ditangguhkan dan dipiutangkan. Bahkan, selanjutnya bisa diputihkan kalau tidak mampu membayar.

“Kalau pasein yang sudah memberi panjer sebagai status umum, bisa menggunakan mobil jenazah rumah sakit. Tapi keluarga mengaku akan mengangkut menggunakan Carry. Kami pikir ada Carry tertutup, justru terbuka. Karena ada sebelumnya masyarakat mengangkut jenazah keluarganya sendiri,” ujar Arya Nugraha.

Selama ini, Arya Nugraha mengaku, bergabung di Yayasan Sesama yang sering membantu masyarakat untuk mobil jenazah. Tagihannya nanti ditanggung pihak Sesama, karena sudah ada kerjasama atau kesepakatan. Hanya saja terkait hal ini, dari pihak keluarga Gede Seni ingin pemulangan jenazah dengan menggunakan mobil pikap.

Baca juga :  Mendikbud Ingatkan Sekolah Hati-hati Melaksanakan Aktivitas di Luar Sekolah

“Alasannya biar tidak ribet. Tetapi justu malah diekspose di medsos, sehingga netizen yang berkomentar karena tidak tahu jalan ceritanya. Sebenarnya banyak jenazah yang dibawa keluarganya sendiri dengan kendaraan pribadi,” jelas Arya Nugraha.

Sementara itu, Perbekel Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana menegaskan, jika keluarga Gede Seni sebelumnya terdata sebagai penerima jaminan kesehatan PBI yang disubsidi pemerintah karena masuk sebagai keluarga miskin. Hanya saja, sejak almarhum Gede Seni bekerja di sebuah restoran di Denpasar, maka almarhum Gede Seni mendapat tanggungan BPJS dari perusahannya.

Karena mendapat tanggungan dari pihak perusahaan, maka subsidi jaminan kesehatan dari pemerintah dicabut. Sejak pandemi Covid-19, almarhum terkena PHK, sehingga tanggungan BPJS Kesehatan dari pihak perusahaan diberhentikan.

“Yang bersangkutan sakit, dan keluarganya melapor. Kami di perangkat desa memfasilitasi dengan berkordinasi dengan pihak Dinas Sosial agar bisa kembali mendapat jaminan kesehatan. Rencananya, Februari jaminan kesehatannya keluar,” terang Pariadnyana.

Namun takdir berkata lain, sebelum jaminan itu keluar, almarhum telah meninggal dunia di RSUD Buleleng. Bahkan karena tidak memiliki biaya, Pariadnyana melakukan koordinasi dengan RSUD Buleleng dan Dinas Sosial Buleleng terkait pemulangan jenazah Gede Seni, meskipun masih menunggak biaya. Sehingga, ada kebijakan intuk pemulangan jenazah almarhum Gede Seni.

Namun belakangan, ada seorang relawan yang malah memosting pemulangan jenazah Gede Seni dengan menggunakan mobil pikap dan ramai di media sosial. Sehingga, mendapatkan komentar beragam dari netizen. “Mungkin karena ketidaktahuan dari masyarakat, padahal pihak RSUD Buleleng sudah membijaksanai karena bisa dipulangkan, meskipun masih menunggak. Kami berharap ada bantuan donatur sehingga biaya pengobatan di dua RS itu bisa dilunasi,” pungkas Pariadnyana. ari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.