Penyelidikan Kasus Pencurian di Museum TPB Margarana, Tak Ada Dokumen, Polisi Kesulitan Lacak Barang yang Hilang

  • Whatsapp
POLISI saat olah TKP kasus pencurian di Museum TPB Margarana. Foto: gap
POLISI saat olah TKP kasus pencurian di Museum TPB Margarana. Foto: gap

TABANAN – Kapolres Tabanan AKBP Mariochristy Panca Sakti Siregar mengakui kesulitan untuk melacak sejumlah barang yang hilang di Museum Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana. “Salah satu kesulitan kami dalam penyelidikan kasus ini, karena sampai saat ini tidak ada dokumen atas barang-barang yang dilaporkan hilang itu,” ungkapnya, Jumat (18/6/2021).

Kendati demikian, lanjut Mario, kepolisian tetap akan melakukan penyelidikan atas laporan kasus tersebut. Perkembangan terkini, dari 21 orang yang sempat diinterogasi, tiga di antaranya dijadikan saksi, termasuk saksi petugas kebersihan yang pertama kali melihat beberapa replika sudah berada di luar areal gedung museum bagian utara.

Bacaan Lainnya

Gedung Museum TPB Margarana milik Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Provinsi Bali itu, disatroni maling, yang baru diketahui pada Jumat (11/6/2021) sekitar pukul 10.00. Sejumlah benda bersejarah di dalamnya dilaporkan telah hilang.

Ketika itu, saksi petugas kebersihan di TPB Margarana, I Wayan Sudantia (40), menyebut pada Jumat (11/6/2021) sekitar pukul 10.00, saat dia bekerja membersihkan areal TPB Margarana bersama teman-temannya, melihat replika rudal AL KRI I Gusti Ngurah Rai, kotak dana punia, replika senjata dan replika bambu runcing, sudah berada di luar areal gedung museum bagian utara.

Baca juga :  Publik Dominan Tahu Pilkada dari Baliho

Saksi kemudian memberitahukan kepada teman-temannya untuk mengecek ke dalam gedung meseum, dan mereka mendapati pintu gedung sudah dalam keadaan terbuka secara paksa. Di depan pintu meseum ditemukan gunting pencukur rumput.

Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Marga. Diketahui pula ada sejumlah barang yang hilang dari museum tersebut. Di antaranya sebuah golok Lombok milik pejuang, sebuah senjata keris Bali milik pejuang, satu pedang samurai kecil milik Ibu Lasti (panjang sekitar 60 sentimeter), sebuah pedang samurai Peta milik Krtut Widjana alias Pak Item (dengan sarung panjang sekitar 90 sentimeter. Selain itu, juga sebuah samurai bersarung kayu (yang dipakai pejuang asal Desa Grana, I Gusti Ngurah Rai Mirsa, dengan panjang sekitar 90 sentimeter), serta sepasang tanda pangkat mayor milik I Gusti Putu Wisnu (yang terbuat dari tembaga). Total kerugian material sekitar Rp25 juta.

“Untuk memudahkan penyelidikan kasus ini, selain dari keterangan saksi-saksi, juga diperlukan ada dokumen atas barang yang hilang itu. Misalnya dengan dokumen foto, sehingga kita bisa tahu barang yang hilang itu bentuknya seperti apa, ukuran berapa, dan lain-lain. Untuk itu kami akan gali lagi dalam penyelidikan lebih lanjut,” ujar Mario. gap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.