POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Adanya wacana parliamentary threshold (PT) 5% di DPR RI diprediksi akan menyengitkan persaingan ke Senayan. Konsekuensinya, akan ada politisi yang sulit bersaing di internal partai. Celah ini dibaca Ketua DPD Partai Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih, untuk “merayu” kader partai lain yang dirasa sesak bersaing untuk bergabung ke Golkar.
“Golkar itu partai terbuka. Yang merasa tidak lolos di partainya silakan gabung ke Golkar,” serunya dalam pembukaan Rakerda dan pelantikan pengurus DPD Golkar Bali serta kabupaten/kota di Denpasar, Sabtu (3/10/2026).
Meski UU Pemilu belum disahkan, sebutnya, tapi wacana PT 5% di Senayan menguat. Kondisi serupa dinilai 90% juga akan diterapkan di daerah. Dengan PT naik maka pertarung cukup sengit, karena semua partai akan kejar PT untuk membentuk fraksi di Senayan. “Pelbagai strategi dan manajemen akan kita lakukan sungguh-sungguh dan penuh kepastian,” seru Demer, sapaan akrabnya.
Sengitnya kompetisi semua partai, diyakini akan membuat Golkar banyak dilirik politisi yang kemungkinan partainya tidak lolos PT. Bagi kader Golkar, peluang banyaknya kader partai lain yang punya kekuatan besar diminta tidak membuat jadi takut bersaing. Kalau takut bersaing, peluang dapat kursi bisa hilang dan tidak ada “yang dapat ditunggu” jika terjadi sesuatu.
“Buat dulu kursi, entah siapa yang duduk itu soal garis tangan. Yang penting agar partai cukup besar,” pesannya.
Menuju target Pemilu 2029, Demer minta program partai dirancang dengan teliti agar bisa dijalankan. Pertama, harus ada orang yang bukan sekadar ditaruh, tapi juga populis dan elektabilitas tinggi agar menopang elektoral. Kedua, jaringan elektoral jangan cuma sampai desa, bila perlu sampai dusun. Ketiga, bagaimana kader menampung aspirasi rakyat untuk dapat simpati dengan terus bergerak di masyarakat, dan kontrol organisasi dengan sistem digital.
“Keempat, persiapan logistik sangat penting meski, karena kita menabung untuk 2029,” paparnya.
Lebih jauh Demer menyinggung kemungkinan besar pilkada lewat DPRD, tidak lagi dengan pemilihan langsung. Dia menyatakan Golkar mendukung wacana itu meski tidak populis, tapi diklaim itu terbaik untuk rakyat.
Membincang soal kepengurusan di kepemimpinannya, Demer mengakui ada kader yang terpaksa “ditinggal” karena beberapa pertimbangan. Antara lain catatan masa lalu mereka kurang baik. Dia tidak mau ada kader yang menggembosi partai direkrut jadi pengurus. Pula minta maaf jika ada yang diusulkan tapi tetap tidak tertampung.
“Saya pakai intuisi saya juga untuk mengajak, kadang tepat, kadang salah juga. Bagi yang belum terakomodir jangan berkecil hati. Tiap masa ada orang dan tiap orang ada masanya,” ucapnya.
Sekretaris DPD Partai Golkar Bali, I Dewa Gede Dwi Mahayana Putra Nida, menambahkan, komposisi DPD Partai Golkar Bali periode 2025–2030 (hasil perubahan), dari total 108 pengurus, keterlibatan generasi muda cukup signifikan. Terdapat 47 pengurus dari kalangan milenial & Gen Z atau 43,52%. Untuk keterwakilan perempuan berjumlah 37 orang atau sebesar 34,26%.
“Komposisi kepengurusan mencerminkan adanya penyegaran organisasi melalui keterlibatan generasi muda dan perempuan, sekaligus memperkuat struktur organisasi dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi kepengurusan DPD Partai Golkar Provinsi Bali periode 2025–2030,” ungkap Wiwin, panggilan karibnya.
Terkait kepengurusan, Demer menegaskan siapa pun yang bergabung ke Golkar bisa menjadi pengurus, bahkan sampai menjadi Ketua Umum. Bahlil Lahadalia yang pernah jadi sopir angkot saja bisa jadi Ketua Umum, apalagi anak muda yang panjang karir politiknya. “Kami mengajak Gen Z dengan pengetahuan dan pengalaman luas karena medsos, untuk membangun Partai Golkar agar jadi maksimal memperjuangkan aspirasi rakyat,” pungkasnya. hen
























