Karya Pura Hulundanu Batur, Ribuan Krama Songan Haturkan 400 Gebogan dalam Prosesi Nyenuk

RIBUAN krama Desa Adat Songan bersama krama dari Payangan dan Tegallalang mengarak gebogan dan sesajen hasil bumi dalam prosesi Nyenuk rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Tri Kahyangan Jagat Hulundanu Batur, Bangli, Kamis (27/8/2026). Foto: ist
RIBUAN krama Desa Adat Songan bersama krama dari Payangan dan Tegallalang mengarak gebogan dan sesajen hasil bumi dalam prosesi Nyenuk rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Tri Kahyangan Jagat Hulundanu Batur, Bangli, Kamis (27/8/2026). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Ribuan krama Desa Adat Songan beriringan mengikuti upacara sakral nyenuk di Pura Tri Kahyangan Jagat Hulundanu Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (27/8/2026). Prosesi ini dilaksanakan serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama yang bertepatan dengan hari suci Purnama Sasih Ketiga. Ratusan krama perempuan Desa Adat Songan berjalan kaki menjunjung sekitar 400 gebogan dari Bale Agung menuju Pura Hulundanu Batur sejauh 1,5 kilometer.

Upacara 10 tahun sekali ini menghadirkan suasana spiritual sarat estetika budaya. Sebelum memasuki area Utama Mandala, para pamucuk pura memberikan wejangan singkat kepada rombongan peserta. Prosesi ini diawali iringan warga penyangga umbul-umbul tridatu yang membawa aneka hasil bumi berupa pala bungkah, pala gantung, palawija, hingga kayu-kayuan (taru jangga mana).

Read More

Masyarakat yang berpartisipasi tidak hanya berasal dari Desa Adat Songan, tetapi juga melibatkan krama dari luar daerah seperti Payangan dan Tegallalang, Gianyar. Barisan dilanjutkan oleh kelompok busana yang merepresentasikan arah mata angin sesuai konsep Ista Dewata. Rombongan pertama berbusana putih sebagai representasi arah timur atau Dewa Iswara melangkah dari nista mandala menuju utama mandala.

Secara berurutan, barisan disusul kelompok pakaian kuning (barat/Dewa Mahadewa), pakaian hitam (utara/Dewa Wisnu), pakaian merah (selatan/Dewa Brahma), dan pakaian manca warna sebagai simbol wilayah tengah. Setiap kelompok mengiringi langkah dengan atraksi seni sakral, mulai dari pertunjukan wayang, Tari Topeng Sidakarya, hingga Tari Rejang.

Yajamana Karya (pemimpin upacara), Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Sanga Pemayun, menjelaskan, rangkaian nyenuk mendahului tahapan nyineb sebagaimana tradisi di Pura Besakih. Tahapan ini mengacu pada sesapa yang dipercayai warga Desa Adat Songan sebagai simbol penyambutan dan persiapan sarana menuju inti tawur agung.

“Pada momen nyenuk, Ida Bhatara Iswara menurunkan anugerah terhadap sarana upacara sehingga pelaksanaannya lebih baik diselenggarakan sebelum upacara nyineb,” ujarnya di Kintamani, Kamis (27/8/2026).

Ketua Pelaksana Tawur Agung Manca Wali Krama Pura Tri Kahyangan Jagat Hulundanu Batur, Jero Sabha, menerangkan, upacara nyenuk dipusatkan di dua lokasi, yakni Bale Agung dan Pura Hulundanu Batur sejak pukul 10.00 Wita. Partisipasi krama melonjak drastis melebihi estimasi awal yang diperkirakan hanya sekitar 600 orang. Kelompok pelajar dari SMKN 2 Kintamani dan SMPN 4 Kintamani turut bergabung ngayah di lokasi.

Jero Sabha menegaskan prosesi nyenuk memegang peranan vital dalam tawur agung 10 sesuai amanat purana pura setempat. Rangkaian ini berkesinambungan dengan upacara padudusan dan mapag toya yang digelar pada hari berbeda.

Seluruh ritual dipersembahkan kepada Ida Bhatari Dewi Danu sebagai simbol sumber kehidupan dan kemakmuran air. Pelaksanaan upacara dipastikan memegang teguh koridor sastra dan dresta tradisi setempat sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan karunia alam. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.