BANGLI – Kerajinan Bangli didominasi berbahan bambu, misalnya sokasi, dan didukung oleh ketersediaan bahan baku bambu. Melandainya kasus Covid-19 di Indonesia, termasuk di Bali, berimbas kepada mulai meningkatnya pesanan kerajinan bambu di Bangli. Angkanya cukup signifikan, mencapai 40 persen.
Mulai membaiknya pemasaran kerajinan bambu membuat para perajin bambu di Desa Kayubihi jadi semringah. Pesanan datang dari daerah Gianyar, Denpasar dan luar Bali. “Kami bersyukur Covid-19 telah melandai, sehingga berimbas pada pesanan kerajinan bambu,” tutur Nengah Rina, perajin bambu asal Desa Kayubihi, Kamis (9/3/2023).
Rina mengisahkan, saat pandemi Covid-19 berkecamuk, pemasaran kerajinan bambu anjlok turun. Pesanan di bawah 30 persen, yang membuat perajin frustasi. “Pandemi memang membuyarkan perajin untuk meraih penjualan,” kisahnya dengan nada getir.
Untuk meningkatkan pasar lokal, dia mengaku harus banyak berinovasi. Namun, bagusnya, kerajinan yang dihasilkan tidak monoton. Karenanya, saat itu banyak jenis kerajinan keben yang dihasilkan perajin bambu. “Untuk mempertahankan pemasaran kita harus kaya motif, selain kualitas juga harus tetap terjaga,” lugasnya.
Peningkatan pemasaran kerajinan bambu ini juga dipengaruhi dengan adanya perayaan hari raya seperti Nyepi oleh umat Hindu dan bulan puasa oleh umat Islam. “Pesanan melonjak pada jenis kerajinan keranjang parcel, nampan dan tempat buah,” tandasnya.
Nengah Merni, perajin lainnya, juga mengungkapkan hal senada. Setelah dicabutnya PPKM oleh pemerintah pusat sebagai tanda menurunnya kasus Corona, berefek pada peningkatan pemasaran kerajinan di Bangli. “Kami harap pemerintah bisa membantu perajin untuk lebih mempromosikan kerajinan lokal,” harapnya. gia






















