DENPASAR – Di era digitalisasi saat ini, masatua Bali (mendongeng berbahasa Bali) sangat jarang dilakukan masyarakat Bali. Padahal dalam satua (dongeng) Bali itu sarat akan makna kearifan lokal Bali, yakni pendidikan karakter berbasis budaya.
Menyikapi hal itu, dan juga dalam upaya melestarikan kearifan Bali tersebut, UPTD Taman Budaya Provinsi Bali menggelar Seminar Masatua Bali, Kamis (6/10/2022). Kegiatan itu melibatkan 50 siswa SMP di Kota Denpasar, yakni SMPN 8 Denpasar dan SMP PGRI 2 Denpasar.
Kasi Dokumentasi dan Informasi UPTD Taman Budaya Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Ketut Widiastra, menyampaikan, tradisi masatua saat ini ‘hilang’ karena tergerus kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat. “Seminar ini menjadi pilot project terlebih dahulu, dan hanya melibatkan siswa SMP yang ada di Denpasar,” ujarnya.
Dia mengatakan, seminar ini mengupas satua “Cupak Gerantang” dengan menghadirkan narasumber dari Penyuluh Bahasa Bali. “Ke depannya kami rancang seminar ini tetap akan berlanjut dalam upaya membentuk karakter yang baik bagi anak-anak sekaligus melestarikan budaya mesatua,” katanya.
Guru SMP PGRI 2 Denpasar, Ni Made Savitri Kutarini, menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia, anak-anak yang dilibatkan dalam seminar ini dari OSIS. “Di era digitalisasi ini, sedikit peminat. Beda dengan zaman dahulu, generasi sekarang lebih banyak di gadget,” ungkapnya.
Dia menuturkan, dalam satua ada nilai-nilai luhur dan pesan dalam bertingkah laku baik dan buruk. “Satua itu ada baik dan buruk yang menjadi contoh di dalam menjalani kehidupan,” pungkas Savitri. alt























