”Dari perjalanan suci Rsi Markandeya menuju ruang perjumpaan dunia”
Oleh Dr. I Ketut Suardana
SEBELUM dunia mengenal Ubud melalui seni, pariwisata, dan festival, masyarakat telah mengenang perjalanan suci Rsi Markandeya di lembah Wos. Tradisi setempat menghubungkan beliau dengan Taro, Campuhan, dan Pura Gunung Lebah, kawasan kehidupan serta pemujaan sebelum nama Ubud dikenal seperti sekarang.
Dalam memuliakan beliau, Rsi Markandeya dapat disebut tamu agung: Seorang pengelana suci dengan pengikutnya yaitu orang Aga yang kedatangannya dikenang melalui tempat suci dan hubungan antarmasyarakat. Kisahnya memiliki beberapa versi. Ungkapan bahwa beliau “membuka Ubud” perlu dipahami sebagai tradisi pembukaan kawasan dan penataan ruang sakral, dengan penamaan wilayah yang berbeda dari keadaan sekarang.
Wos menghidupi pertanian dan menghubungkan masyarakat hulu dengan hilir. Pertemuan sungai di Campuhan mengundang perenungan tentang kehidupan yang datang dari berbagai arah, kemudian meneruskan perjalanan bersama. Makna ini merupakan pembacaan filosofis atas bentang alam. Spiritualitas Ubud sendiri berakar pada upacara, pemeliharaan pura, pengelolaan air, dan kewajiban yang diwariskan masyarakat.
Pada abad kedua puluh, puri memperluas keterbukaan melalui dukungan terhadap kesenian. Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Tjokorda Gde Raka Sukawati mempertemukan seniman Bali dengan pendatang yang tertarik pada kebudayaan setempat. Dari hubungan tersebut, karya memperoleh kesempatan berkembang dan nama Ubud menjangkau publik internasional.
Paris 1931 menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan ini. Melalui Exposition coloniale internationale, tari dan gamelan Bali diperkenalkan kepada penonton Eropa dalam kerangka kolonial Hindia Belanda. Keterlibatan Puri Ubud dan seniman Peliatan memperlihatkan bahwa masyarakat Bali turut membawa kebudayaannya ke dunia melalui kemampuan artistik mereka sendiri.
Pertunjukan itu memengaruhi pemikiran teater Antonin Artaud dan memperluas rasa ingin tahu terhadap Bali. Bersama karya seni, tulisan, dan cerita perjalanan, pameran Paris menjadi salah satu jalur pengenalan internasional terhadap pulau ini.
Pita Maha, dibentuk pada 1936, memperkuat kerja sama puri, Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan seniman Bali. Yayasan Ratna Wartha, berdiri pada 1953, meneruskan cita-cita pelestariannya melalui Museum Puri Lukisan, yang diresmikan pada 1956. Museum ini menjadi rumah warisan seni sekaligus ruang pertemuan lingkungan kesenian penerus semangat Pita Maha.
Daya cipta masyarakat merupakan dasar kekayaan tersebut. I Gusti Nyoman Lempad, para pelukis, pematung, penari, dan penabuh mengolah pengetahuan warisan menjadi karya yang terus berkembang. Spies serta Bonnet membantu membuka jaringan luar negeri, sementara seniman Bali membuat pilihan dan menentukan arah penciptaannya.
Antonio Blanco dan Han Snel kemudian menjadikan Ubud tempat hidup serta berkarya. Suteja Neka dan Agung Rai memperkuat pelestarian melalui Museum Neka dan ARMA. Studio, museum, serta dukungan keluarga memperlihatkan bagaimana hubungan dengan suatu tempat dapat tumbuh menjadi pengabdian panjang.
Ubud juga menerima pemimpin negara dan keluarga kerajaan sebagai tamu agung. Pada masa Presiden Soekarno, hubungan antarnegara memperoleh dimensi budaya melalui kunjungan ke kawasan ini. Kedatangan Presiden India Rajendra Prasad pada 1958 dikenang dalam Geguritan Rajendra Prasad, yang mencatat perjalanan beliau menuju Tampaksiring dan Ubud.
Catatan Pemerintah Kabupaten Gianyar menyebut kunjungan raja Thailand bersama Ratu Sirikit, serta Ratu Juliana dari Belanda pada 1971, dalam sejarah penerimaan tamu di Museum Ratna Wartha dan Puri Ubud. Pada Juni 2017, Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44 yang telah selesai menjabat, berlibur bersama keluarganya di Sayan dan mengunjungi ARMA.
Kunjungan tokoh terkenal menambah perhatian terhadap Ubud, dari Charlie Chaplin pada 1932 hingga syuting Eat Pray Love pada 2009. Kehadiran mereka melengkapi perjalanan panjang desa yang telah memiliki kehidupan seni dan tradisi untuk diperkenalkan kepada dunia.
Di Sayan, Taman Bebek menjadi bagian penting dari lingkungan tersebut. Tempat ini berakar pada rumah dan taman yang dibangun Colin McPhee serta Jane Belo pada awal 1930-an, dengan masukan desain Walter Spies. Pada 1970-an, Made Wijaya, perancang taman kelahiran Australia bernama Michael White, memperoleh lahannya dan membangun kembali sejumlah pondok.
Made Wijaya mengembangkan Taman Bebek sebagai rumah persinggahan dan tempat menerima sahabat. Catatan pengelolanya menyebut David Bowie, Mick Jagger dari The Rolling Stones, Yoko Ono, serta sutradara Francis Ford Coppola sebagai tamu. Melalui taman dan arsitekturnya, kecintaan terhadap Bali bertemu dengan persahabatan lintas budaya.
Di luar nama-nama besar itu, datang pengelana yang membangun hubungan langsung dengan warga. Pada akhir 1960-an dan 1970-an, sebagian mengikuti semangat hippie, mencari kebebasan, kesederhanaan, dan pengalaman batin. Bruce Carpenter serta John Hardy kemudian mengembangkan keterlibatan dalam seni dan kerajinan. John Darling dan saudara Blair turut mendokumentasikan kehidupan Bali.
Keterbukaan keluarga Ubud memberi dasar bagi pertumbuhan ini. Rumah menjadi pondok, dapur melayani tamu, dan pekarangan menjadi tempat percakapan. Canderi, Okawati, dan Murni merupakan nama penting dalam sejarah tersebut. Para perempuan pemilik usaha membangun hubungan melalui keberanian, kerja, kemampuan memasak, dan perhatian kepada pengunjung.
Warung menjadi tempat pertukaran rasa serta pengetahuan. Pedagang kain, penjual lukisan, perajin, dan pedagang acung menghubungkan hasil kerja masyarakat dengan pembeli. Persahabatan, cinta, dan perkawinan menambah kedalaman hubungan antarbudaya, masing-masing dengan pengalaman yang patut dipahami secara adil.
Symon, seniman Amerika bernama Ronald Thomas Bierl, menjadikan Bali rumahnya sejak 1978. Studionya di Campuhan ikut mewarnai kesenian Ubud. Bersama Annie Anderson dan Kiyoshi Okuda, ia mengembangkan JakPak: jaket serta topi berwarna cerah yang dapat diubah menjadi tas melalui rancangan kantong yang cerdik.
Dalam ingatan saya, warna-warninya menyerupai pelangi dan mengingatkan pada semangat hippie. Karya Symon mempertemukan kegunaan dengan permainan imajinasi. Pelangi itu dapat dibaca sebagai kegembiraan menerima perbedaan, keberanian berekspresi, dan kebebasan menjelajah yang memperoleh bentuk dalam benda sehari-hari.
Penestanan mempunyai kisah kreativitasnya sendiri. Sejak awal 1960-an, Arie Smit mendukung anak-anak muda desa yang kemudian mengembangkan gaya lukis Young Artist. Warna dan keseharian memperoleh tempat dalam karya mereka. Dalam pengamatan saya, kawasan ini masih menyimpan suasana yang mengingatkan pada semangat hippie, meskipun tujuan serta identitas pendatang terus berubah.
Pengetahuan tentang Ubud juga berkembang melalui penelitian dan penerbitan. Adrian Vickers, melalui Bali: A Paradise Created serta kajiannya tentang Ubud, menjelaskan pembentukan reputasi budaya melalui kerja sama puri, seniman lokal, dan ekspatriat. Pembaca diajak mengenali sejarah serta masyarakat di balik citra keindahannya.
Tony dan Maureen Wheeler mendirikan Lonely Planet pada 1973 melalui Across Asia on the Cheap. Panduan mereka menyediakan informasi bagi pengelana mandiri. Dalam buku perjalanan tentang Bali, Ubud diperkenalkan melalui seni, penginapan, makanan, dan kegiatan budaya. Kajian sejarah memperdalam pemahaman; panduan perjalanan membantu orang mendatangi tempat yang ingin dikenalnya.
Perkembangan berikutnya membuka ruang sastra, kuliner, dan kegiatan spiritual. Ubud Writers & Readers Festival, dimulai pada 2004 di bawah Yayasan Mudra Swari Saraswati, mempertemukan penulis, pembaca, dan masyarakat. Ubud Food Festival mengangkat makanan sebagai jalan memahami kebudayaan. BaliSpirit Festival, berdiri pada 2008, mempertemukan yoga, tari, musik, dan semangat keharmonisan Tri Hita Karana.
Percakapan yang dahulu tumbuh di puri, studio, serta warung memperoleh panggung publik lebih luas. Festival-festival ini memiliki sejarah dan organisasinya sendiri. Kedekatannya dengan pengelana terdahulu dapat dibaca melalui kesamaan nilai: rasa ingin tahu, kesediaan mendengar, dan pencarian pengalaman hidup.
Masa depan Ubud memerlukan tanggung jawab bersama. Pengunjung perlu menghormati adat, ruang upacara, tetangga, serta lingkungan. Warga harus memperoleh manfaat ekonomi, kesempatan berkarya, dan peran dalam menentukan perubahan. Sebutan tamu agung menemukan maknanya ketika penghormatan kepada pengunjung berjalan bersama penghargaan terhadap martabat tuan rumah.
Dari ingatan tentang Rsi Markandeya hingga festival masa kini, Ubud dibentuk oleh banyak tangan: puri, seniman, petani, perajin, perempuan pengelola warung, keluarga desa, dan pengelana. Mereka menyediakan kekayaan kehidupan yang membuat dunia ingin datang.
Tamu dapat singgah dan pergi, tetapi warga menjalani akibat perubahan setiap hari. Sawah, air, tempat suci, dan kehidupan keluarga perlu tetap mempunyai ruang. Keterbukaan akan memperkaya desa apabila tumbuh bersama kemampuan menjaga sumber kehidupannya.
Ubud membuka pintu kepada dunia. Di dalam pintu itu, kehidupan masyarakatnya harus tetap mempunyai rumah. (Penulis adalah pemerhati budaya dan juga dosen tidak tetap Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar)























