POSMERDEKA.COM, BANGLI – KPU Republik Indonesia mengingatkan generasi muda di Kabupaten Bangli untuk lebih bijak dan kritis dalam menyaring informasi jelang pemilu. Pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai membawa tantangan baru berupa maraknya disinformasi. Imbauan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 di Museum Geopark Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (8/10/2026).
Anggota KPU RI, Idham Holik, menjabarkan, akses informasi tak terbatas di era digital tidak otomatis menjamin keakuratan data yang diterima masyarakat. Kehadiran AI memudahkan akses informasi, sekaligus membuka celah penyebaran konten manipulatif dan hoaks. Kondisi ini berpotensi merusak nalar kritis calon pemilih jika tidak dibentengi dengan pemahaman yang memadai.
“Pemilih perlu memiliki kemampuan menelaah informasi dan memeriksa sumber. Akses informasi yang tidak terbatas tidak selalu menghasilkan informasi yang tepat,” pesannya.
Kegiatan sosialisasi ini diikuti sekitar 70 peserta yang didominasi siswa SMA dan SMK se-Kabupaten Bangli. Selain kalangan pelajar, KPU juga merangkul kelompok disabilitas, masyarakat marginal, dan segmen perempuan. Langkah kolaboratif antara KPU RI, KPU Provinsi Bali, dan KPU Kabupaten Bangli ini bertujuan memperkuat kesadaran politik sejak dini.
Ketua KPU Provinsi Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, turut mengajak generasi muda membuang jauh praktik politik pragmatis dalam menentukan arah kepemimpinan. Dia menekankan pentingnya menggunakan hati nurani serta rekam jejak calon ketimbang tergiur iming-iming materi. Langkah ini penting agar masa depan daerah tidak tergadaikan kepentingan politik jangka pendek.
“Saya berharap pendidikan politik ini mampu melahirkan bibit-bibit pemimpin baru yang berintegritas dari Kabupaten Bangli. Pemilih muda diharapkan menjadi benteng utama dalam menjaga kualitas dan marwah demokrasi di daerahnya,” ucapnya.
Ketua KPU Kabupaten Bangli, I Kadek Adiawan, menyambut positif dorongan tersebut, dan menyebut sosialisasi ini sebagai ajang melengkapi literasi sekolah. Pengetahuan teknis dan substansial kepemiluan dinilai belum banyak tersaji secara khusus dalam kurikulum formal. “Saya berharap para siswa dapat menjadi agen edukasi bagi lingkungan keluarga dan sekitarnya,” pinta Adiawan.
Sebagai bentuk edukasi praktis, KPU Bangli sebelumnya telah menggelar Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) serentak di tingkat SMA/SMK dengan adopsi tahapan pemilu. Para pelajar diajak merasakan langsung atmosfer pencalonan, penyampaian visi-misi, hingga debat terbuka. Pengalaman langsung ini dirancang agar pemahaman demokrasi siswa tidak sebatas teori di dalam kelas.
Menurutnya, Bangli memiliki modal sosial yang kuat dalam hal partisipasi politik masyarakat pada perhelatan pemilu. Pada Pemilu 2024, partisipasi pemilih di Bangli mencatatkan rekor impresif mencapai 86%. Sementara pada Pilkada 2024, tingkat partisipasi masyarakat Bangli berada di angka 78,4%.
Materi pendidikan pemilih dalam acara tersebut diampu oleh dua akademisi, yakni Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel dan Dr. Made Gde Subha Karma Resen. Kedua narasumber membekali peserta dengan panduan menjadi pemilih kritis yang mampu membedakan janji politik dan program kerja nyata. Penekanan diberikan pada konsekuensi logis dari setiap suara yang disalurkan terhadap pembangunan daerah.
Antusiasme peserta terlihat cair saat memasuki sesi diskusi interaktif bersama para pemateri dan pimpinan KPU. Berbagai isu krusial dilontarkan para siswa, mulai dari penerapan asas luber jurdil, makna satu suara, hingga fenomena golput. Mereka juga menanyakan dampak perubahan sikap pejabat publik sebelum dan sesudah terpilih menduduki jabatan. hen























