BULELENG – Memasuki hari pertama kerja usai pelantikan, Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana, Senin (28/8/2022), melakukan pemantauan ketersedian dan harga kebutuhan pokok di Pasar Banyuasri, Kelurahan Banyuasri, Buleleng. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui harga kebutuhan pokok yang beredar sehingga mudah untuk meredam tingkat inflasi.
Lihadnyana mengatakan, tingkat inflasi di Provinsi Bali saat ini sudah melebihi nasional. Buleleng dan Denpasar menjadi dua daerah yang diperhitungkan tingkat inflasinya. “Saya ke pasar dulu di hari pertama kerja. Setelah itu akan dipikirkan, koordinasikan bagaimana upaya mengendalikan tingkat inflasi,” kata dia usai pemantauan.
Salah satu yang mempengaruhi tingkat inflasi adalah produksi. Saat ini produksi cabai dan bawang turun karena musim hujan. Saat musim hujan, petani justru takut menanam cabai.
Sementara keperluan dua komoditas itu meningkat karena adanya kebutuhan seperti untuk upacara keagamaan.Kondisi itu membuat ketersediaan barang terbatas, sedangkan permintaan meningkat, sehingga harga juga ikut meningkat.
Berdasarkan pemantauan, menurut Lihadnyana, beberapa komoditas harganya naik. Seperti cabai dan telur. Meskipun beberapa waktu lalu harga kedua komoditas tersebut sempat turun. Komoditas ini turut memicu tingkat inflasi jika harganya naik. Termasuk harga beras.
“Karena kalau inflasi meningkat, daya beli menurun. Misal saya beli Rp10 ribu dapat 10 kilogram, tapi sekarang dengan Rp10 ribu hanya dapat 6 kilogram. Ini mendorong kemiskinan juga. Saya sudah lama menangani inflasi. Jadi harus bisa dikendalikan,” jelasnya.
Dia mengatakan, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan oleh salah satu pihak saja, melainkan perlu kerjasama seluruh pihak. Manajemen rantai pasok dari komoditas juga harus benar. Di hulu harus dilakukan penanganan juga.
“Saya segera panggil Kadis Pertanian terkait ini. Kalau bawang bulan lalu panen, makanya agak turun sedikit. Kalau sudah habis, nanti akan naik lagi,” pungkas Lihadnyana. rik























