POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Bagi sebagian anak, membaca adalah keterampilan yang dapat dikuasai secara bertahap. Namun, bagi anak penderita disleksia, mengenali huruf, menghubungkan bunyi, hingga merangkai kata merupakan tantangan tersendiri.
Kondisi inilah yang menginspirasi lima siswi SMPN 3 Denpasar untuk menghadirkan solusi pembelajaran interaktif melalui game edukasi digital bernama PhonicLand.
Kepedulian tersebut membuahkan hasil manis. Astraea Team berhasil meraih Gold Medal pada ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2026 untuk kategori Social Science Product. Kompetisi internasional besutan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) ini berlangsung pada 3–6 Oktober 2026 di SMESCO, Jakarta.
Astraea Team diketuai oleh Ni Putu Vanistha Trisna Putri (IX G) dengan anggota I Gusti Ayu Agung Tyastari Dharmapatni (IX G), Putu Kirana Defaira Jayshi (VIII E), Ni Luh Made Louisa Arya Devi (VIII E), dan Putu Defika Asha Joghoan (VIII E). Mereka mengusung penelitian bertajuk “PHONICLAND: The Effectiveness of Using Phonetic Educational Games to Improve the Reading Skills of Dyslexic Children”.
Ubah Tantangan Membaca Jadi Petualangan
Berbeda dari game digital biasa, PhonicLand dikembangkan menggunakan platform Scratch dengan menggabungkan unsur petualangan dan latihan membaca berbasis fonetik (phonics).
Dalam game ini, pemain diajak menjelajahi dunia virtual bersama karakter menarik untuk mengenali bunyi huruf, menyusun suku kata, hingga menyelesaikan tantangan membaca. Sistem penghargaan (reward) di dalamnya dirancang untuk membangun motivasi dan rasa percaya diri anak.
Proses Panjang dan Pesan Inklusivitas
Raihan medali emas ini melalui proses panjang, mulai dari merumuskan masalah, merancang permainan, menguji instrumen, hingga presentasi di hadapan dewan juri internasional.
Perjuangan mereka didampingi penuh oleh guru pembimbing Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd., serta mendapat dukungan penuh dari Kepala SMPN 3 Denpasar, Ni Nengah Sujani, S.Pd., M.Pd.
Bagi Astraea Team, PhonicLand bukan sekadar karya untuk kompetisi, melainkan pesan inklusivitas bahwa setiap anak berhak mendapat kesempatan belajar yang setara. Disleksia bukanlah cerminan rendahnya kecerdasan, melainkan membutuhkan pendekatan media belajar yang tepat.
Melalui PhonicLand, kelima siswi SMPN 3 Denpasar membuktikan bahwa kepedulian dan teknologi sederhana mampu menghadirkan solusi nyata bagi dunia pendidikan. tra























