Warga Bangli Belum Ada Terjangkit Super Flu

Plt. Kadis Kesehatan Kabupaten Bangli, dr. I Dewa Gede Oka Darsana. Foto: ist
Plt. Kadis Kesehatan Kabupaten Bangli, dr. I Dewa Gede Oka Darsana. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Secara klinis, super flu menunjukkan gejala mirip influenza pada umumnya tapi dengan tingkat keparahan lebih tinggi. Pasien dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, serta durasi sakit lebih panjang dibandingkan flu biasa. Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli, dr. I Dewa Gede Oka Darsana, menyebut masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu.

“Gejalanya hampir sama, tetapi cenderung lebih berat. Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan risiko komplikasinya juga lebih besar,” bebernya saat ditemui, Senin (19/1/2026).

Bacaan Lainnya

Hingga saat ini, warga Bangli diklaim belum ada yang teridentifikasi mengidap super flu. Meski demikian, Dinas Kesehatan telah berkoordinasi dengan Puskesmas di empat kecamatan, RSUD Bangli, RSU BMC, hingga klinik swasta. Langkah ini diambil untuk menyampaikan prosedur antisipasi terhadap ancaman varian baru tersebut.

Dinkes juga mengadakan rapat koordinasi dengan seluruh kepala puskesmas se-Bangli guna memantau gejala flu yang mengarah ke super flu. Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah penyebaran yang lebih massif di tengah masyarakat. Tindakan cepat harus segera dilakukan jika ditemukan indikasi klinis di lapangan.

Dewa Oka Darsana menjelaskan, super flu merupakan varian lain dari virus influenza yang sudah lama dikenal. Virus ini termasuk influenza tipe A dengan subtipe H3N2, tapi yang membedakan adalah munculnya subklade baru, yakni K, yang sebelumnya belum banyak ditemukan. “Ini merupakan varian yang perlu diwaspadai pergerakannya,” ujarnya.

Masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan, menghindari keramaian, dan menggunakan masker saat mengunjungi fasilitas kesehatan. Selain istirahat cukup dan konsumsi makanan bergizi, warga diminta segera ke dokter jika mengalami gejala berat. Etika batuk dan rajin mencuci tangan kembali ditekankan untuk melindungi kelompok rentan.

“Gunakan masker saat sakit, terapkan etika bersin, rajin cuci tangan, serta jaga daya tahan tubuh. Kebiasaan ini penting untuk mencegah penularan,” paparnya menutup imbauan. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses