POSMERDEKA.COM – Ganda putri Indonesia Fitriani Sabatini/Fadona Kusumawati menepis anggapan bahwa padel merupakan olahraga yang berkembang karena tren. Hal ini dibuktikan setelah pasangan Merah Putih ini memastikan medali pada debut cabang olahraga (cabor) tersebut di Asian Games 2026.
Fitriani/Fadona melaju ke final setelah mengalahkan pasangan Filipina Danna Abad/Joshea Malazarte dengan skor 6-0, 6-0 di Nagoya City Higashi Sport Center, Jepang, Jumat (2/10/2026).
“Apalagi padel diremehkan di Indonesia kan, katanya olahraga FOMO (fear of missing out). Tapi kita bisa buktiin pulang bawa medali,” kata Fadona seusai menjalani pertandingan semifinal.
Pencapaian tersebut terasa semakin istimewa bagi Fitriani/Fadona karena mereka sebelumnya merupakan petenis yang kemudian memutuskan hijrah ke padel. Keputusan itu diambil setelah keduanya melihat peluang yang lebih besar untuk berprestasi di cabang olahraga yang masih relatif baru di Indonesia tersebut.
Fitriani mengaku pada awalnya diajak Fadona untuk bermain padel. Ia kemudian merasa menikmati olahraga tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk menekuni secara serius. Selain merasa cocok dengan padel, minimnya pertandingan tenis di tingkat nasional turut menjadi pertimbangan keduanya untuk beralih cabang olahraga.
Fadona menambahkan keputusan tersebut juga didasari pertimbangan mengenai peluang prestasi yang dapat mereka raih melalui padel. “Kita melihat juga kalau padel ini kita ada chance besar di sini, beda dengan tenis. Makanya kita langsung switch ke padel, maka dari itu kita sudah fokus yang bisa di titik sekarang,” ujar Fadona, seperti dilansir posmerdeka.com dari antaranews.
Meski memiliki dasar tenis, Fadona mengakui proses adaptasi ke padel tidak sepenuhnya mudah. Sejumlah aspek permainan seperti penggunaan kaca, gameplay, dan positioning membutuhkan waktu untuk dipelajari.
“Sebenarnya susah gampang ya, karena kita sudah ada padel itu kan dari basic tenis juga. Cuma kalau untuk belajar di padel itu belajar di kaca, sama gameplay, positioning itu mungkin cukup lama juga. Kita sudah mau dua tahun,” kata Fadona.
Sementara itu, sejumlah teknik dasar seperti voli, forehand, backhand, dan smash dapat mereka adaptasi dengan relatif cepat karena sudah memiliki fondasi dari tenis.
Bagi Fitriani/Fadona, keberhasilan menembus final Asian Games menjadi bukti bahwa padel tidak hanya dapat menjadi olahraga rekreasi atau tren, tetapi juga memiliki potensi untuk melahirkan prestasi di level internasional.
Lebih dari itu, keberhasilan mereka meraih medali pada debut olahraga padel di Asian Games menjadi lebih istimewa ketika melihat perjuangan mereka sebelumnya sebagai atlet tenis. “Yang pasti enggak nyangka, bangga, senang banget, campur aduk rasanya. Campur aduk, bisa di titik sekarang, ternyata padel bisa bikin kita seperti ini,” ujar Fadona.
Kini, Fitriani/Fadona menunggu pemenang babak semifinal antara pasangan Indonesia Putria Novela/Beatrice Gumulya melawan ganda putri Jepang Saki Tsukamoto/Kae Tokumoto. yes
























