Minum dari Mata Air yang Sama

DOKTOR I Ketut Suardana. foto: ist

India, Bali, dan Persaudaraan Peradaban Dharma

INDIA dan Bali minum dari mata air peradaban yang sama, tetapi air itu mengalir melalui tanah sejarah yang berbeda. Karena tanahnya berbeda, warna bunga, aroma, dan rasa buah yang dihasilkan pun tidak harus sama.

Mata air tersebut adalah kesadaran Dharma: penghormatan terhadap kehidupan, hubungan manusia dengan alam dan Tuhan, hukum karma, kelahiran kembali, kesucian pengorbanan, serta pencarian pembebasan rohani. Dari India berkembang Veda, Upaniṣad, Rāmāyaṇa, Mahābhārata, berbagai sistem darśana, yoga, tantra, serta tradisi Śaiva, Vaiṣṇava, Śākta, dan Buddha.

Ajaran-ajaran tersebut kemudian mengalir ke berbagai wilayah Asia, termasuk Nusantara. Namun, perjalanan itu tidak berlangsung seperti memindahkan isi sebuah wadah ke wadah lainnya. Ia terjadi melalui perjumpaan panjang antara manusia, bahasa, kerajaan, perdagangan, perkawinan, sastra, kesenian, dan pengalaman spiritual.

Ketika aliran peradaban India sampai di Nusantara dan Bali, ia tidak memasuki tanah yang kosong. Masyarakat Nusantara telah memiliki penghormatan terhadap leluhur, alam, gunung, laut, sumber air, kekuatan-kekuatan niskala, serta tata kehidupan agraris dan komunal. Kebijaksanaan yang datang kemudian bertemu dengan akar lokal tersebut, mengalami dialog, penyesuaian, penyaringan, dan penciptaan kembali. Dari proses panjang itulah lahir peradaban Hindu Nusantara dan Hindu Bali.

Bali Bukan Salinan India

Bali tidak perlu menjadi India untuk mengikuti cara orang India menghayati Veda. Mengakui hubungan historis dengan India tidak berarti Bali harus meniru seluruh bentuk kehidupan keagamaan India.

Pura tidak harus diubah menjadi kuil India. Upacara Bali tidak harus diseragamkan dengan bentuk pūjā di India. Bahasa Bali dan Jawa Kuno tidak perlu digantikan oleh bahasa Sanskerta. Tradisi desa adat, banjar, subak, pemujaan leluhur, serta berbagai bentuk yadnya tidak perlu kehilangan kekhasannya hanya untuk membuktikan bahwa masyarakat Bali adalah penganut Hindu.

Veda bukanlah cetakan kebudayaan tunggal yang harus diterapkan secara seragam. Ia adalah sumber kebijaksanaan yang dapat dihayati dalam berbagai bahasa, simbol, kesenian, dan tata kehidupan. Dalam tradisi Bali, hal ini tercermin dalam prinsip desa, kāla, patra: setiap pelaksanaan Dharma mempertimbangkan tempat, waktu, dan keadaan.

Oleh sebab itu, perbedaan bentuk antara India dan Bali tidak selalu menunjukkan perbedaan hakikat. Sebuah kebenaran spiritual dapat memperoleh ungkapan budaya yang berbeda tanpa kehilangan inti ajarannya.

Bali bukan India yang dipindahkan ke sebuah pulau. Bali adalah hasil perjumpaan kreatif antara berbagai arus peradaban: kebijaksanaan India, warisan Jawa Kuno, pengalaman sejarah Nusantara, serta jiwa spiritual masyarakat Bali sendiri.

Bali Tidak Perlu Menolak India

Sebaliknya, Bali juga tidak perlu menolak India untuk mempertahankan jati dirinya. Identitas yang kuat tidak dibangun dengan menyangkal hubungan sejarah, melainkan dengan memahaminya secara jernih dan dewasa.

Banyak istilah yang hidup dalam agama dan kebudayaan Bali—seperti Dharma, karma, ātman, mokṣa, yajña, tattwa, bhuvana agung, dan bhuvana alit—mempunyai hubungan dengan dunia pemikiran India. Rāmāyaṇa dan Mahābhārata menjadi bagian penting dalam kesusastraan, seni pertunjukan, etika, dan imajinasi masyarakat Bali. Akan tetapi, semua itu telah diolah sedemikian rupa sehingga memperoleh bahasa, rasa, dan bentuk yang khas Bali.

Mengakui kenyataan tersebut tidak menjadikan Bali lebih rendah. Tidak ada peradaban besar yang tumbuh sendirian. Semua peradaban berkembang melalui perjumpaan, penerimaan, penolakan, penyaringan, dan penciptaan kembali.

Bali justru menunjukkan kekuatan budayanya karena mampu menerima pengaruh dari luar tanpa kehilangan pusat batinnya. Apa yang datang tidak diterima secara pasif, tetapi diolah hingga menyatu dengan pandangan hidup masyarakat.

Karena itu, Bali tidak menjadi kecil dengan mengakui akar Veda. Bali juga tidak menjadi lebih Bali dengan menolak India.

Sumber Pengetahuan dan Penghayatan Hidup

India adalah salah satu sumber besar pengetahuan Veda; Bali adalah salah satu bentuk penghayatan hidupnya. Sumber dan penghayatan tidak perlu saling meniadakan.

Di India, berbagai persoalan tentang Brahman, Ātman, Dharma, karma, saṃsāra, dan mokṣa dirumuskan, diperdebatkan, ditafsirkan, serta diwariskan melalui teks, perguruan, kuil, dan garis para guru. India menyimpan khazanah pustaka dan tradisi filsafat yang sangat luas.

Di Bali, ajaran tersebut tidak hanya hadir sebagai pengetahuan yang dibaca, tetapi juga dihidupkan dalam keluarga, pura, banjar, desa adat, subak, seni, pertanian, tata ruang, penghormatan terhadap leluhur, dan pelaksanaan upacara.

Hubungan bhuvana agung dengan bhuvana alit, misalnya, tidak berhenti sebagai gagasan metafisis. Ia diterjemahkan ke dalam penataan pekarangan, pembangunan tempat suci, penghormatan kepada gunung dan sumber air, persembahan hasil bumi, serta usaha menjaga hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan dunia niskala.

Filsafat memasuki kehidupan. Teologi memperoleh tubuh kebudayaan. Dharma tidak hanya dibicarakan, tetapi juga ditarikan, dinyanyikan, dipahat, dipersembahkan, dan dilaksanakan melalui kerja bersama.

Namun, ini tidak berarti bahwa India hanya mempunyai teks, sedangkan Bali hanya mempunyai ritual. India juga memiliki tradisi penghayatan yang hidup. Bali pun mempunyai warisan intelektual melalui lontar, tutur, tattwa, sastra, serta ajaran para rṣi, mpu, dan sulinggih. Keduanya memiliki pengetahuan dan penghayatan, meskipun tumbuh dalam konteks sejarah yang berbeda.

Sumber tanpa penghayatan dapat berubah menjadi pengetahuan yang jauh dari kehidupan. Sebaliknya, penghayatan yang terputus dari sumber dapat kehilangan kedalaman filosofis dan kemampuan untuk menjelaskan dasar tindakannya. Karena itulah, keduanya perlu saling menerangi.

Kesamaan Teologi sebagai Jembatan

Kesamaan teologi seharusnya menjadi jembatan dialog, bukan alasan untuk saling menguasai.

India tidak semestinya memandang Hindu Bali sebagai bentuk yang kurang murni hanya karena tata upacara dan kebudayaannya berbeda. Bali pun tidak perlu memandang setiap hubungan dengan India sebagai ancaman terhadap adat dan identitas lokal.

Hubungan tersebut tidak seharusnya dibangun sebagai hubungan antara pusat dan pinggiran, pemilik dan peminjam, atau yang dianggap murni dan yang dianggap campuran. Hubungan India dan Bali lebih tepat dipahami sebagai persaudaraan peradaban.

India dapat membantu Bali memperdalam pengetahuan mengenai Veda, Upaniṣad, Sanskerta, yoga, dan berbagai sistem filsafat. Bali dapat menunjukkan bagaimana Dharma menyatu dengan seni, ekologi, kehidupan komunal, penghormatan terhadap leluhur, dan kegiatan sehari-hari.

Dialog yang sehat bukanlah usaha untuk menentukan siapa yang lebih asli, lebih tinggi, atau lebih berhak mewakili Hindu. Dialog seharusnya menjadi ruang untuk saling memperkaya tanpa kehilangan kedaulatan budaya masing-masing.

Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Akar yang berhubungan dapat melahirkan pohon dengan bentuk yang berbeda. Bahkan pada pohon yang sama, tidak ada dua daun yang benar-benar serupa.

Dalam Cahaya Citta–Rasa–Karsa

Hubungan India dan Bali juga dapat dipahami melalui Filsafat Citta–Rasa–Karsa.

Citta mengajak manusia memahami sumber pengetahuan secara jernih, kritis, dan mendalam. India dengan khazanah Veda dan filsafatnya memberikan sumbangan besar bagi kejernihan pengetahuan tersebut.

Rasa membuat pengetahuan tidak berhenti sebagai konsep. Bali menghayatinya melalui seni, ritual, kebersamaan, keindahan, dan kedekatan dengan alam. Pengetahuan memasuki hati dan menjadi pengalaman hidup.

Karsa mengubah pengetahuan dan penghayatan menjadi tindakan. Dharma diwujudkan dalam pelayanan, gotong royong, pelestarian lingkungan, perlindungan warisan budaya, serta tanggung jawab kepada generasi mendatang.

Citta tanpa Rasa dapat menjadi pengetahuan yang kering. Rasa tanpa Citta dapat kehilangan kejernihan. Citta dan Rasa tanpa Karsa tidak menghasilkan perubahan. Ketiganya menemukan keseimbangan dalam Samarasā: kesatuan antara kesadaran, penghayatan, kehendak, dan tindakan berdasarkan Dharma.

Persaudaraan yang Tidak Saling Menghapus

Masa depan hubungan India dan Bali tidak terletak pada penyeragaman, melainkan pada saling pengakuan. India perlu menghormati Bali sebagai peradaban Hindu yang mempunyai perjalanan dan kepribadiannya sendiri. Bali perlu menghormati India sebagai salah satu sumber besar yang ikut memberi kedalaman kepada kehidupan spiritualnya.

Pengakuan tidak berarti penyerahan diri. Kemandirian juga tidak berarti penolakan terhadap sumber.

India dan Bali minum dari mata air yang sama, tetapi air itu mengalir melewati pegunungan, hutan, lembah, kerajaan, bahasa, dan ingatan sejarah yang berbeda. Karena itulah, keduanya melahirkan bunga peradaban dengan warna dan aroma masing-masing.

Mata air memberikan kedalaman kepada aliran. Aliran membuktikan bahwa mata air itu masih hidup. Tanah memberikan bentuk kepada kehidupan yang tumbuh di atasnya. Bunga dan buah memperlihatkan bagaimana sumber yang sama dapat melahirkan keindahan yang beraneka.

Bali tidak perlu menjadi India untuk mengikuti cara orang India menghayati Veda, dan Bali tidak perlu menolak India untuk mempertahankan jati dirinya. Mata airnya bersaudara, tanah sejarahnya berbeda, bunganya beraneka, tetapi sari kehidupannya tetap Dharma. (Penulis adalah pemerhati budaya dan juga dosen tidak tetap Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.