POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Setelah 48 tahun berlalu, Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let, Desa Adat Manukaya Let, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, kembali digelar. Ribuan krama dari enam desa adat tumpah ruah mengikuti prosesi peed atau Nyenuk, Sabtu (3/10/2026).
Sekitar 2.000 krama berjalan kaki mengikuti iring-iringan upacara. Suasana semakin meriah dengan tabuhan gamelan Bali dari sekitar 10 kelompok sekaa gong yang mengiringi jalannya prosesi.
Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, mengatakan, prosesi Nyenuk merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let. “Ini merupakan bagian dari rangkaian Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let yang dilaksanakan dengan penuh rasa bhakti dan kebersamaan,” ujar Arnata.
Karya besar tersebut meliputi sejumlah rangkaian upacara, yakni Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, dan Mendem Pedagingan. Seluruh rangkaian dilaksanakan sebagai wujud sraddha dan bhakti umat sekaligus memohon kerahayuan, keseimbangan, serta keharmonisan kehidupan. Yang membuat karya kali ini memiliki nilai historis, yakni pelaksanaannya kembali dilakukan setelah hampir setengah abad. Karya serupa terakhir kali digelar pada 1978.
“Melalui pelaksanaan kali ini, kami berharap tradisi yang diwariskan leluhur tetap terjaga dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya,” ungkapnya.
Dalam prosesi tersebut, krama dari enam desa adat turut ambil bagian. Keenam desa adat itu yakni Desa Adat Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul.
Keterlibatan enam desa adat tersebut tidak hanya memperlihatkan besarnya dukungan terhadap pelaksanaan karya, tetapi juga menjadi cerminan kuatnya semangat menyama braya dan gotong royong dalam menjaga tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Semarak peed semakin terasa dengan iringan sekitar 10 kelompok sekaa gong. Sejumlah kesenian gamelan seperti Adi Merdangga, baleganjur hingga gong suling ikut mengiringi perjalanan para pemedek.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Yanti Adi Parbawa, menambahkan, pelaksanaan karya agung tersebut menjadi wujud komitmen masyarakat dalam menjaga, sekaligus membangkitkan kembali nilai-nilai tradisi yang selama ini belum banyak diangkat dan direvitalisasi. “Melalui upacara Nyenuk yang dibalut tradisi, nilai-nilai tersebut kembali dihidupkan dan diperkuat,” katanya.
Selain menjadi momentum keagamaan, sambungnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat keberadaan tradisi lokal agar tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Rangkaian Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung dan Mendem Pedagingan dinilai memiliki makna penting dalam tradisi Hindu Bali, terutama berkaitan dengan penyucian, keharmonisan, serta pemuliaan kembali tempat suci secara sekala dan niskala. adi
























