Retribusi Penglipuran 60% untuk Desa, 40% untuk Pemkab Bangli

FORUM yang mempertemukan pemimpin daerah, tokoh adat, dan masyarakat Desa Wisata Penglipuran. Foto: ist
FORUM yang mempertemukan pemimpin daerah, tokoh adat, dan masyarakat Desa Wisata Penglipuran. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dan modernisasi dapat berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang memikat wisatawan dari seluruh dunia. Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, menekankan bahwa kesejahteraan masyarakat adalah prioritas utama dalam pengembangan daya tarik wisata.

“Kami berkomitmen untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil berpihak pada kepentingan masyarakat, dengan tetap menghormati nilai-nilai adat dan budaya yang menjadi fondasi Penglipuran,” ujarnya dalam forum yang mempertemukan pemimpin daerah, tokoh adat, dan masyarakat setempat, belum lama ini.

Bacaan Lainnya

Fokus diskusi dalam forum tersebut adalah pembagian hasil retribusi pariwisata, di mana disepakati skema 60% untuk Desa Penglipuran, dan 40% untuk Pemkab Bangli tetap dipertahankan. Dana retribusi tersebut diproyeksikan untuk membiayai perbaikan infrastruktur desa senilai Rp2,5 miliar, dijadwalkan pada tahun 2026, termasuk pengembangan paket wisata yang lebih luas bagi pengunjung.

Bupati menegaskan pentingnya memastikan manfaat ekonomi yang diterima dapat dikelola langsung oleh masyarakat setempat. “Dengan memberi keleluasaan dan pembebasan ruang gerak, kita memberdayakan masyarakat untuk mengelola potensi desa mereka sendiri secara mandiri,” paparnya.

Selain urusan retribusi, isu strategis seperti pengelolaan sampah juga menjadi bahasan serius. Pengolahan sampah diharap dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru melalui produksi kompos dan pemanfaatan energi. Di tengah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masih relatif kecil, Pemkab Bangli berupaya memaksimalkan setiap peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Sedana Arta menegaskan, Penglipuran bukan sekadar objek wisata, juga simbol keberhasilan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sinergi yang kuat antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat diharapkan dapat menjaga Penglipuran tetap menjadi primadona utama wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bangli. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses