POSMERDEKA.COM, MANGUPURA – Nama mantan Ketua Umum KONI Bali dua periode Ketut Suwandi, masih dikenang hingga saat ini. Karena, dialah si pembuat sejarah perjalanan olahraga Bali, dengan membawa Kontingen ”Seribu Pura” ini finish di ranking (urutan lima) klasemen akhir perolehan medali Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021.
Bertanding di tengah suasana serangan wabah virus Covid-19, Kontingen Bali sukses mendulang 28 medali emas, 25 perak dan 53 perunggu, mengalahkan kontingen Jawa Tengah (Jateng) yang berada di urutan keenam dengan 27 emas, 47 perak dan 64 perunggu.
Ini untuk kali pertama dalam sejarah, kontingen Bali bisa ”mengangkangi” Jateng sebagai salah satu kekuatan the big four. Dalam sejarah PON, Jateng memang selalu berada di empat besar bersama kekuatan Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Makanya dikenal dengan kekuatan empat besar yang sulit ditembus provinsi lain.
Hampir 10 tahun mengendalikan KONI Bali, Suwandi memang sangat akrab dengan rekan-rekan media. Dia tidak anti kritik, justru sebaliknya kritik itu dibutuhkan untuk kemajuan olahraga, khususnya di Bali. Menurutnya, sukses di Papua juga berkat dukungan media.
Setelah mengakhiri jabatannya, Suwandi pun masih akrab dengan rekan-rekan media khususnya yang membidangi olahraga. Dalam setiap kesempatan, seperti pengukuhan kepengurusan KONI Badung, sosok yang juga mantan ketua umum KONI Badung ini, juga tampak asyik ngobrol dengan para jurnalis.
Tiba-tiba saja, Suwandi pun bertanya kepada awak media, siapa kira-kira ketua umum KONI Bali mendatang (2026-2030)?. ”Muprov KONI Bali tinggal sebulan lagi, masa teman-teman media tidak tahu siapa calon kuat. Apakah Pak Giri jadi maju (maksudanya Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, -red),” tanyanya.
Ketika dijawab ketum KONI Bali masih misterius, karena masih ada pada ”genggaman” Gubernur Bali I Wayan Koster. ”Saya kira sah-sah saja, karena KONI adalah perpanjangan tangan pemerintah dalam hal memajukan olahraga Bali khususnya. Tapi kalau boleh saya usulkan, jagonya pak gub harus orang tepat,” ujar Suwandi.
Maksudnya orang yang tepat? ”Ya, minimal tahu soal olahraga terutama soal manajerialnya, punya karakter, disegani cabor anggotanya. Yang tak kalah penting, punya banyak waktu, karena jadi ketua umum KONI tidak punya hari libur,” beber Suwandi.
Menurutnya, ketua umum KONI Bali mendatang punya tugas dan tantangan sangat berat, terutama dalam menghadapi PON 2028 yang sistemnya berbeda dari PON sebelum-sebelumnya, dimana hanya akan mempertandingkan cabor-cabor olimpiade. Tentu saja, Bali akan kehilangan banyak medali emas,” sebut Suwandi.
Itu artinya, tambah dia, cabor-cabor andalan Bali seperti criket, kabaddi, dan sejumlah cabor bela diri (karena ada PON khusus beladiri) tidak dipertandingkan di PON NTB dan NTB. ”Berapa medali emas Bali akan hilang, rasanya sangat berat masuk 10 besar dalam klasemen akhir medali,” tambahnya.
Tapi, kata dia, masih ada waktu 2 tahun untuk mempersiapkan diri menuju PON NTB-NTT. Tentu saja, menjadi tantangan tersendiri bagi ketua umum KONI Bali mendatang, bagaimana dia memanage, memacu dan menggenjot atlet-atlet cabor-cabor olimpic agar bekerja keras dengan berlatih maksimal demi prestasi. yes























