Unjuk Setia PDIP Tabanan, DPC Mana Menyusul ke Koster?

Gus Hendra
Gus Hendra

Dukung 2 periode, Tut.. tut.. tut.. siapa hendak turut? Ke Koster, Jaya Sabha. Bolehlah gabung dengan gembira. Ayo sekutu lekas naik, Pilgub Bali tak lama lagi. (dinyanyikan sesuai irama laguNaik Kereta Api gubahan Ibu Sud).

Terpisah jarak 7.844 km, hawa persaingan di Piala Dunia 2022 ternyata merembet sampai ke Bali. Bedanya, jika di Piala Dunia kompetisi merebut status juara antara Argentina menghadapi Prancis, di Bali terjadi pertandingan mendulang rekomendasi calon Gubernur dari PDIP antara Giri Prasta dan Wayan Koster. Pergulatannya, selain panas, juga bak berbalas pantun di tingkat kader.

Bacaan Lainnya

Ketua DPC PDIP Tabanan, Komang Gede Sanjaya, Rabu (14/12/2022) menyatakan mendukung Koster 2 periode. Mengingat waktunya berdekatan dengan deklarasi kader PDP Badung, Wayan Regep, yang mengatasnamakan Semeton Pasek mendukung Giri Prasta, tidak sulit membaca manuver Sanjaya sebagai aksi tandingan.

Uniknya, gebrakan Sanjaya direspons postingan di media sosial (medsos) berisi narasi “Fraksi PDIP Tabanan berani merapat ke Giri Prasta. Hebat” lewat akun Andre Irawan di Facebook grup Suara Badung. Tak lama keluar klarifikasi dari akun GP Bali Shanty: pertemuan Giri dengan Fraksi PDIP Tabanan tidak ada motif politik, hanya menyampaikan program pembangunan di Tabanan yang akan dibantu hibah Pemkab Badung lewat program Badung Angelus Buana, dengan difasilitasi Fraksi PDIP Tabanan.

Baca juga :  Pulang dari Luar Negeri, ABK WNI akan Transit di Bandara Ngurah Rai

Secara semiosis, saling klaim dukungan PDIP Tabanan bisa berarti tiga kemungkinan. Pertama, murni karena internal belum solid memilih siapa; kedua, strategi politik dua kaki menimbang perseteruan masih jauh dari selesai; ketiga, bentuk kepanikan dan resistensi atas keputusan Sanjaya yang kurang memperhitungkan kebutuhan logistik kader untuk insentif elektoral di Pileg 2024.

Sejatinya unjuk setia berwujud deklarasi itu alamiah. Pada era Demokrasi Terpimpin, Bung Karno sebagai Presiden/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi ABRI dikenal gemar aksi massa demi menunjukkan kesetiaan atas perintahnya. Yang paling gemuruh dan militan, itu paling disayang (Herbert Feith, 2001). Terbuai dukungan aksi massa, paling kencang dilakukan PKI, pula yang jadi salah satu embrio prolog tragedi Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965.

Mencermati rivalitas mencari sekutu dan unjuk setia tersebut, situasinya dapat dimaknai sekurang-kurangnya dalam tiga hal.

Pertama, memelihara dukungan politik jelas tidak gratis, perlu logistik berupa anggaran, kebijakan publik, sampai fasilitasi tertentu. Persoalannya, saat vakum jabatan sejak Oktober 2023 sampai pendaftaran paslon Mei 2024, Koster niscaya sangat terbatas sumber daya merawat kesetiaan 7 dari 9 ketua DPC PDIP yang kabarnya mendukung, minus Badung dan Buleleng. Sebaliknya, karena masih menjabat Bupati Badung, Giri tinggal menanti momentum tepat untuk tancap gas menyodorkan konsensi yang menggiurkan bagi pendukung Koster.

Sejarah mencatat kesetiaan utama mayoritas kader PDIP, terutama di Bali, secara elektoral, kultural dan nonfinansial hanya pada Megawati Soekarnoputri sebagai primus inter pares. Belum ada sosok lain mampu menandingi itu. Bahkan AAN Oka Ratmadi (Cok Rat) sebagai simbol dan figur sentral PDIP di Bali, gagal kembali lolos calon anggota DPD RI pada Pileg 2019 meski suara PDIP sebesar 54,36 persen dari 2.323.366 suara sah. Hipotesanya, kader kian kritis dan loyalitas tidak menjamin satu jalur dengan figur yang diidentikkan atau diusung partai.

Baca juga :  Nasdem NTB Target Jadi Pemenang Pemilu 2024

Kalaupun ancaman pemecatan dipakai senjata, rasanya tidak terlalu efektif mendisiplinkan kader dalam kontestasi seruncing dan sekompleks sekarang. Butuh kalkulasi dan administrasi matang memecat kader, terlebih jika terbilang senior, punya jabatan eksekutif atau legislatif, dan basis massa. Apalagi Pilkada dilangsungkan setelah Pileg 2024, yang berarti butuh logistik lebih dari kader secara gotong royong. Elite partai tak bijak menyikapi, hanya soal waktu hegemoni runtuh dan internal kian terkoyak akibat residu kandidasi.

Kedua, meski potensinya kecil, samar-samar terlihat kemungkinan ada pihak ketiga yang mengipasi via medsos. Postingan soal “membelotnya” Fraksi PDIP Tabanan segera diralat akun GP Bali Shanty. Jika benar postingan atas perintah, minimal sepengetahuan kubu Giri, kecil kemungkinan ada klarifikasi dengan artikulasi hati-hati semacam itu.

Kenapa perlu klarifikasi? Simpel, karena Giri waspada dan mencegah difitnah ke induk partai. Ingat, sosok Prananda Prabowo sebagai panglima perang PDIP adalah salah satu kunci, jika bukan malah yang terkuat, pemasti kandidasi.

Ada satu foto di medsos memperlihatkan Prananda bersama Koster dan para ketua DPC, kecuali Giri dan Agus Suradnyana, duduk santai dengan pose 2 jari. Gestur akrab dan ekspresi semringah mereka dikonstruksi bahwa “Sang Pangeran” mendukung Koster 2 periode. Sekurang-kurangnya mengirim pesan ke khalayak bahwa ada kedekatan hangat Prananda dengan Koster.

“Pendukung” Giri mendekonstruksi pesan itu dengan memposting foto Megawati, ibunya Prananda, duduk di kursi kerja Giri dan mampir ke rumah jabatan Bupati Badung; kondisi yang katanya tak pernah dialami Koster. Sebagai homo symbolicum, kedua kubu memainkan simbol partai dalam perang udara demi menguatkan posisi diri, sekaligus mendelegitimasi kubu lawan. Padahal, meminjam pendapat sosiolog Jean Baudrillard, kedua pihak sejatinya sama-sama terjebak dunia simulakra dan hiperrealitas.

Baca juga :  Menanti “Cinta” Selly Mantra, Golkar Tegaskan Tidak Ada Pengkhianatan di Politik

Ketiga, yang jarang dibahas adalah bila—karena sesuatu dan lain hal– skenario Koster 2 periode tidak terwujud dan Giri juga diminggirkan PDIP, siapa berpeluang dijadikan pengganti? Untuk topik ini, kita bahas dalam kesempatan lain saja.

Kembali ke drama dukungan DPC PDIP Tabanan vs Fraksi PDIP Tabanan, akankah ini menjadi pembuka dari festival unjuk setia DPC lain? Jika tidak, minimal Sanjaya tercatat sebagai kader terdepan setia ke Koster. Jika iya, Sanjaya yang juga akan berjuang untuk 2 periode di Tabanan, berpeluang dapat insentif politik sebagai pioner Koster 2 periode. Tentu jika skenarionya terwujud. So, seperti lagu di atas, DPC mana lagi hendak turut (unjuk setia)? Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.