“Tersandung” SE Gubernur, Ratusan Wisatawan Batal Pesan Hotel di Karangasem

  • Whatsapp
KETUA PHRI Karangasem, I Wayan Kariasa. Foto: nad
KETUA PHRI Karangasem, I Wayan Kariasa. Foto: nad

KARANGASEM – Dirilisnya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali mengenai restriksi kegiatan masyarakat dalam rangka libur Natal dan Tahun Baru 2021 mulai 18 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021, menghadirkan sejumlah persoalan di bidang ekonomi, terutama sektor pariwisata. Ratusan wisatawan lokal yang sebelumnya berencana liburan ke Bali, memilih membatalkan liburan sekaligus pesanan kamar mereka.

Kondisi itu dirasa sangat menyedihkan oleh Ketua PHRI Karangasem, I Wayan Kariasa. Dia menuturkan bagaimana tamu-tamu hotel anggota asosiasi banyak yang membatalkan kedatangan gegara SE Gubernur tersebut. “Kurang lebih sudah hampir 200 kamar yang cancel (batal) sampai kemarin,” cetusnya dengan nada lesu, Kamis (17/12/2020).

Bacaan Lainnya

Kariasa melanjutkan, menyangkut perayaan Natal dan Tahun Baru memang dibatasi meski tetap dibolehkan. Hanya, sifatnya tetap terbatas, terukur, dan yang utama mengutamakan protokol kesehatan. Menurutnya, yang dilarang mungkin adalah minum-minum sampai mabuk di jalan. Jika diadakan di restoran dalam acara jamuan makan malam, dia rasa itu tetap bisa jalan. Tetapi, tetap harus terukur sesuai hasil rapat bersama Forkompimda Karangasem beberapa waktu lalu.

“Yang jelas jangan sampai hingar-bingar yang berlebihan, sehingga melupakan apa yang namanya protokol kesehatan itu. Ini yang sesuai arahan Gubernur, jadi keselamatan masyarakat diutamakan,” sebutnya.

Baca juga :  Pemerintah Diharap Tidak Hilangkan Pekerjaan Petani Arak

Dia menambahkan, pengusaha hotel dan restoran sangat mendukung keselamatan dan kesehatan masyarakat. Meski demikian, di sisi lain mereka juga butuh beroperasi untuk ekonomi masyarakat juga. Yang penting dicarikan solusi seperti di daerah NTT, yang pemerintahnya menggratiskan tes usap. “Mungkin maksudnya orang yang masuk ke wilayah NTT itu tes usapnya dibiayai pemerintah, sehingga ekonomi masyarakat berjalan, kesehatan tetap terjamin, dan orang-orang yang masuk dalam keadaan sehat,” duganya.

Menurutnya, bila memungkinkan SE tersebut bisa diperingan sedikit seperti di daerah Jakarta, yang cukup dengan tes cepat antigen. Langkah itu membuat biaya perjalanan jauh lebih murah daripada tes usap PCR. Selain itu, tingkat akurasi hasilnya juga hampir sama dengan hasil tes usap, dan hasilnya lebih cepat diketahui dengan keakuratan sampai 90 persen.

“Sesuai dengan informasi Dinas Kesehatan, kalau tes cepat biasa mungkin itu agak ragu ya. Tapi dengan tes cepat antigen itu sudah jelas deteksinya, karena ngambil sampel juga melalui hidung. Ini hampir sama tes usap PCR,” tandas Kariasa. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.