Seluruh Desa di Buleleng Diinstruksikan Siapkan Tempat Isolasi

  • Whatsapp
Ilustrasi
Ilustrasi

BULELENG – Untuk mencegah penyebaran Covid-19, maka diperlukan sinergitas semua pihak terutama dari pihak desa. Kini seluruh desa di Buleleng yang terdiri dari Satgas Gotong Royong dan Satgas Relawan diinstruksikan menyiapkan tempat isolasi di masing-masing desa.

Tempat isolasi itu akan dijadikan tempat para pelaku perjalanan luar negeri dan daerah transmisi lokal di Indonesia. Instruksi ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Buleleng No. 140/266/SE/DPMD/2020, tertanggal 10 April 2020.

Bacaan Lainnya

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Buleleng yang juga Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana mengatakan, ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 atau dikenal virus Corona di Buleleng, terutama dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru datang dari luar negeri dan juga pelaku perjalanan dari daerah lain.

Pasalnya berdasarkan data Provinsi Bali pada 9 April 2020, dari total 12 orang uang positif Covid-19, 9 orang adalah PMI. ‘’Kami tidak punya masalah dengan para PMI, mereka itu pahlawan devisa. Ya, mungkin secara tidak disengaja terpapar virus. Sehingga ketika mereka sampai di desa, kami isolasi lagi selama 14 hari di tempat tersendiri. Ini untuk kesehatan dan keselamatan bersama,’’ kata Suradnyana, Minggu (12/4/2020).

Baca juga :  Ciptakan Keseimbangan Ekonomi, Golkar Dorong UMKM Diprioritaskan Hadapi Kenormalan Baru

Isolasi yang dilakukan di desa, menurut Suradnyana, lebih efektif. Sebab, siapapun yang datang akan melapor ke Satgas Gotong Royong maupun Satgas Relawan. Dengan begitu, Desa akan mengetahui siapapun yang datang dan bisa dipantau hingga ke tingkat dusun. Untuk tempat isolasi, bisa memakai ruang SD, gedung, ataupun hotel yang disewa.

Dengan cara begitu, diakui Suradnyana, maka semua yang baru datang dari luar negeri akan diisolasi disana. Jika nanti ditemukan ada gejala klinis, puskesmas di desa setempat yang segera akan mengambil tindakan. Apabila di rapid test hasilnya positif, maka dirawat ke rumah sakit dan nantinya dilakukan test swab, untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti.

‘’Jika mereka yang baru datang ini sehat dan tidak ada gejala sakit, tetap bidan desa memantau. Kalau ada gejala klinis, puskesmas mengambil. Kami sudah distribusikan APD ke masing-masing puskesmas. Sekarang cara pemerintah desa saja bagaimana menangani, bisa melibatkan komunitas untuk membantu penyediaan tempat atau makanan,’’ pungkas Suradnyana. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.