Pura Ulun Danu Batur Lakukan Disinfeksi, Ngusaba Kadasa Ikuti Arahan Pemerintah

  • Whatsapp
DISINFEKSI yang dilakukan di areal Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli. Foto: eri
DISINFEKSI yang dilakukan di areal Pura Ulun Danu Batur, Kintamani, Bangli. Foto: eri

BANGLI – Pura Ulun Danu Batur, Desa Batur Selatan, Kecamatan Kintamani, Bangli melakukan disinfeksi di kawasan pura pada Senin (23/3/2020). Disinfeksi dilakukan di seluruh mandala, termasuk hingga ke areal pawaregan. Titik-titik massa menjadi prioritas pelaksanaan disinfeksi.

Jero Gede Batur Duhuran, kepada posmerdeka.com, mengatakan langkah disinfeksi dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan penyebaran virus maupun bakteri. Terlebih, dalam waktu dekat Pura Kahyangan Rwa Bhineda Bali itu akan melakukan upacara Ngusaba Kadasa.“Secara sekala, kami prajuru tetap melakukan anjuran pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan penyebaran virus seperti kondisi saat ini. Dengan antisipasi ini, kami harap krama maupun umat tidak waswas,” katanya.

Bacaan Lainnya

Selain melakukan disinfeksi di kawasan pura, pihaknya juga akan menaruh wastafel dan hand sanitizer di sejumlah titik, yang nantinya dapat digunakan oleh pemedek. “Kami tetap waspada, melakukan anjuran-anjuran yang dapat dilaksanakan, seperti cuci tangan secara berkala. Kami sudah siapkan tempatnya,” ucapnya.

Selain itu, upaya-upaya niskala juga tetap dilakukan sembari memohon pandemi Covid-19 yang jumlah penderitanya di Indonesia kian meningkat, dapat segera berakhir. “Kami telah lakukan upacara paneduhan jagat, besok (hari ini, red) akan lakukan tawur di pusat desa dan batas desa, namun mekanismenya kami batasi jumlah orang yang terlibat agar tidak ramai,” imbuhnya.

Baca juga :  Operasi Prokes, Tim Gabungan Yustisi Denpasar Kembali Temukan 5 Pelanggar

Sementara itu, terkait dengan pelaksanaan Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun Saka 1942, Jero Gede Duhuran mengaku belum merevisi jadwal yang telah ditetapkan. Sesuai jadwal awal, upacara terbesar di pura tersebut akan digelar selama 15 hari, dari 5 April hingga 20 April 2020.Meski demikian, iamenegaskan jadwal itu dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi ke depan. Langkah terbaik meminimalisasi risiko akan diambil, tanpa mengurangi esensi pelaksanaan upacara.

“Sampai saat ini tidak ada perubahan jadwal, tapi kami akan tunduk sepenuhnya pada petunjuk pemerintah. Jika nanti ada arahan, kami akan lakukan dan rapatkan lagi. Mekanismenya akan kami sesuaikan sesuai kondisi, aci (persembahan) tidak berkurang, tapi tetap minimalisasi risiko. Manyelamatkan manusia adalah yang terpenting,” tandasnya. 015

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.