PPK Denpasar “Segan” Uji Pelamar PPS Senior

  • Whatsapp
CAIRAN sanitasi tangan disediakan di meja panitia tes wawancara pelamar PPS di KPU Denpasar, Kamis (12/3/2020). Foto: gus hendra
CAIRAN sanitasi tangan disediakan di meja panitia tes wawancara pelamar PPS di KPU Denpasar, Kamis (12/3/2020). Foto: gus hendra

DENPASAR – Kekhawatiran anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PKK) yang masih “hijau” jika berhadapan dengan pelamar Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang berpengalaman, ada benarnya. Saat tes wawancara pelamar PPS, ada anggota PPK yang segan menguji karena PPS yang dihadapi lebih senior. Cerita lainnya, sejak Kamis (12/3/2020) KPU Denpasar menyediakan cairan sanitasi tangan bagi siapa yang masuk kantor, sebagai antisipasi isu virus Covid-19 alias Corona.

Salah satu pelamar PPS asal Densel yang diajak ngobrol di sela-sela tes wawancara menuturkan, kebetulan PPK yang menguji dia ternyata mantan anak didiknya di salah satu SMA Negeri di Denpasar. Dia pribadi mendaku tidak hapal identitas PPK itu, karena agak lama lulus dari sekolah itu. “Begitu duduk, PPK itu bilang dia bekas murid saya dulu. Mungkin karena itu juga dia seperti agak kagok wawancara dengan saya,” kisah PPS yang keberatan disebut identitasnya itu sambil tertawa.

Bacaan Lainnya

Bisa jadi karena merasa sungkan itu, tes wawancara akhirnya berlangsung tidak “setegang” yang lain. Pelamar PPS yang sebelumnya pernah menjadi KPPS itu menjawab dengan lugas apa yang ditanya, meski pertanyaannya dirasa terlalu ringan. Hanya, dia tidak tahu apakah karena kondisi itu dia akan lulus atau tidak. Yang jelas dia merasa geli saja dengan tes wawancara yang dialami.

Baca juga :  Walikota Rai Mantra Pimpin Pelepasan Jenazah IB. Sidharta di RSUD Wangaya

Ketua KPU Denpasar, Wayan Arsajaya, yang dimintai komentar pengakuan pelamar PPS itu, menilai sesungguhnya PPK tidak perlu merasa minder berhadapan dengan siapapun, apalagi menghadapi PPS. Alasannya, secara kewenangan PPK lebih tinggi dari PPS. PPK memiliki cakupan satu kecamatan yang terdiri dari sejumlah desa/kelurahan, sedangkan PPS hanya berkutat di satu desa/kelurahan. Dengan begitu, sambungnya, otomatis PPK harus lebih banyak tahu dan lebih luas wawasan tentang kepemiluan dibanding PPS.

“Bagus kalau yang begitu menurut saya. Artinya inilah pengalaman nyata untuk PPK, terutama yang masih baru, untuk mempraktikkan apa yang mereka pahami tentang penyelenggara kepemiluan,” ujar komisioner yang sempat lama menjabat PPS tersebut.

Menghadapi situasi tak nyaman tersebut, sambungnya, juga menjadi tantangan tersendiri bagi PPK bahwa mereka memang layak di posisi PPK yang merupakan atasan PPS. Terlepas apa latar belakang PPS yang dihadapi, mereka seyogianya konsisten dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. “Sekurang-kurangnya rekan PPS harus ada keberanian dan kapabilitas menghadapi PPS. Kuncinya satu, pahami secara presisi regulasi yang ada,” urainya.

Soal mendadak menyediakan cairan sanitasi tangan di kantornya, Arsajaya bertutur hal itu sebagai antisipasi terhadap kekhawatiran isu virus Covid-19. Meski sejauh ini aman-aman saja, langkah itu setidak-tidaknya dapat memberi rasa lebih nyaman para pelamar PPS yang jumlah ratusan itu saat masuk kantor KPU. “Selain itu, menyediakan sanitasi tangan itu kami mengajak mereka lebih sering mencuci tangan untuk higienitas. Salah satu langkah antisipasi Corona kan rajin membersihkan tangan,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.