Peternak Babi Merugi, DPKP Bangli Diminta Berikan Bantuan

KOMISI II DPRD Bangli mengadakan rapat kerja dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Bangli, Senin (9/3/2020). Foto: aa ngurah girinatha
KOMISI II DPRD Bangli mengadakan rapat kerja dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Bangli, Senin (9/3/2020). Foto: aa ngurah girinatha

BANGLI – Komisi II DPRD Bangli mengadakan rapat kerja dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Bangli, Senin (9/3/2020). Salah satu hal yang dibahas yakni soal kasus kematian babi di beberapa tempat. Dewan minta DPKP agar membantu peternak yang merugi lantaran babinya mati.

Wakil Ketua DPRD Bangli, I Komang Carles, yang memimpin rapat kerja, mengapresiasi upaya yang sudah dilakukan DPKP Bangli selama ini dalam menangani kasus kematian babi. Ia mendorong DPKP agar meningkatkan koordinasi lintas sektoral dalam menangani suatu permasalahan.

Bacaan Lainnya

‘’Kita apresiasi tindakan DPKP dengan meningkatkan koordinasi lintas sektoral untuk menangani suatu permasalahan. Hal-hal seperti ini  agar terus dilakukan untuk kepentingan masyarakat,”ujar Carles.

Carles langsung menukik terhadap kematian babi yang terjadi di Desa Dausa, Kintamani, yang diduga karena terserang wabah ASF.  Pascakejadian, Carles mengaku telah turun langsung ke Desa Dausa.  Dia mengaku prihatin karena ada peternak yang babinya habis, dan kerugian yang dicapai diperkirakan puluhan juta. ‘’Terkait hal ini, kita minta Dinas PKP untuk membantu peternak berupa insentif. Kasihan mereka, ternaknya habis sehingga timbul kerugian yang cukup besar,’’ pintanya.

Sementara itu, Ketua Komisi II Ketut Mastrem minta Dinas PKP lebih gencar melakukan pembinaan ke desa. Terlebih sampai sekarang penyebab kematian babi belum diketahui pasti karena hasil lab belum keluar.

Baca juga :  TGB Masuk Kandidat Potensial di Pilpres 2024

Menurut Kepala DPKP I Wayan Sarma, pemberian dana insentif kepada peternak babi tidak bisa dilakukan. Insentif baru bisa diberikan kalau penyebab kematian babi sudah dipastikan akibat ASF. ‘’Hasil uji lab belum keluar. Apa hasilnya nanti menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi untuk menyampaikannya,’’ terangnya. Sarma menyebutkan, sesuai data yang dimiliki saat ini kematian babi telah tersebar di enam desa di empat kecamatan, dengan jumlah angka kematian mencapai 62 ekor. Sementara cici-ciri kematian babi ini hampir sama dengan yang terjadi di Desa Dausa. “Kita telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah kamatian babi ini. Untuk kematian babi ini hanya bisa dilakukan biosecurity dan melakukan penyemprotan dengan disinfektan,’’ tegasnya. 028

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.