MANGUPURA – Tradisi siat geni(perang api) yang dilaksanakan setiap Purnama Kapat di pelataran Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kuta, Badung, pada Kamis (1/10/2020) diubah dengan simbol dupa. Meski tradisi itu tidak dilaksanakan sebagaimana biasanya, Desa Adat Tuban berharap hal itu tidak mengurangi makna pelaksanaan pujawali di pura setempat.
Bendesa Adat Tuban, Wayan Mendra, Kamis (1/10/2020), menerangkan aci siat genierat kaitannya dengan piodalan di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban. Siat geni kali ini digelar dengan format berbeda atas pertimbangan situasi pandemi Covid-19.’’Tradisi itu dilaksanakan untuk menyucikan semua hal yang bersifat buruk, atau menetralisasi bhuana agung dan bhuana alit. Jadi, itu kita tetap dilaksanakan dengan penyesuaian di lapangan,’’ ujarnya.
Dia memaparkan, perang api itu biasanya dilaksanakan dengan memakai serabut api (serabut kelapa yang dibakar). Pelaksanaan tradisi sacral ini melibatkan puluhan pemuda yang dibagi menjadi dua kubu. Di tengah pandemi saat ini,pelaksanaannya diubah dengan lambang simbolis dengan memakai dupa. Maksudnya, pemuda yang biasanya menjadi peserta siat geni disimboliskan dengan dupa.
Siat geni itu akan divisualisasikan dalam bentuk perang dupa yang diadu oleh Mangku Gede Dalem. ‘’Dupa berjumlah 66 batang melambangkan pemuda yang melaksanakan siat geni. Dupa itu dibagi masing-masing 33 batang menjadi dua kubu. Perang dupa itulah yang dipakai simbol siat geni,’’ paparnya.
Sementara untuk prosesi ritual yang berkaitan pelaksanaan tradisi sakral ini tetap dilaksanakan, seperti caru siap selem di sisi utara, ekasata biying di sisi selatan, serta segehan manca warna di tengah-tengah. Mengikuti protokol kesehatan, umat yang hadir dalam persembahyangan pun diatur supaya menerapkan jaga jarak. Pamedek juga diwajibkan memakai masker dan diwajibkan cuci tangan pakai sabun. 023
























