Pandemi, Perajin di Bangli Tak Berhenti Berkarya

  • Whatsapp
WAYAN Dapit (kiri) warga Banjar Malet, Bangli, tak pernah berhenti berkarya menggeluti usaha suvenir meski pandemi Covid-19 memang masih melanda dunia. Foto: ist
WAYAN Dapit (kiri) warga Banjar Malet, Bangli, tak pernah berhenti berkarya menggeluti usaha suvenir meski pandemi Covid-19 memang masih melanda dunia. Foto: ist

BANGLI – Pandemi Covid-19 memang masih melanda dunia, tapi Wayan Dapit tak pernah berhenti berkarya. Meski baru lima bulan terakhir, tapi mulai ada pesanan dari pengepul di Tegalalang, Gianyar untuk kerajinan asesoris setengah jadi.  

Warga Banjar Malet yang menggeluti usaha suvenir menuturkan, Minggu (15/8/2021), suvenir setengah jadi yang dikerjakan seperti asesoris berbentuk kucing dengan motif dan bentuk bervariasi sesuai pesanan. Hasil produknya dikirim ke pengepul di Desa Tegalalang, Gianyar.

Bacaan Lainnya

Untuk harga, dia mematok sesuai ukuran. Yang saat ini dikerjakan dihargai hanya Rp4 ribu, sudah termasuk bahan. Dalam lima hari pesanan selesai dikerjakan. Jika sebelum pandemi, pesanan untuk setengah jadi bisa mencapai ribuan. Tetapi, baru lima bulan ini baru dapat 200 biji, meski rutin ada pesanan. “Walaupun ada orderan, tapi sedikit,” ujarnya.

Dalam situasi seperti sekarang ini, dia mendaku tetap memilih bertahan menjadi perajin untuk terus berkarya mengisi hari-hari membuat kerajinan model baru sesuai orderan. Bentuknya unik dan bernilai seni tinggi, yang membuat kerajinan buatannya mencapai pasar ekspor dengan dijual pengepul kebanyakan ke Australia maupun Eropa. Di tangan Dapit, kayu albesia diolah menjadi kerajinan lanskap kebanyakan berupa binatang. “Sebelum membuat diberikan contoh yang sudah jadi,” ucapnya.

Baca juga :  Terpilih Aklamasi, Ngurah Harta Bertekad Kembalikan Kejayaan Taekwondo Denpasar

Untuk membuat kerajinan ini, ujarnya, butuh waktu sekitar lima hari, bergantung tingkat kerumitannya. Di samping berupa kucing, juga ikan berbagai motif. “Sebisa mungkin seperti aslinya yang dibuat walaupun setengah jadi,” terangnya.

Dapet menambahkan, sekitar 90 persen warga Malet bergelut di bidang kerajinan selain sebagai petani maupun pedagang. Khusus pengepulnya ada dari Tampaksiring maupun Tegalalang, Gianyar. “Ini sudah dilakoni sejak puluhan tahun,” pungkasnya. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.