Objek Wisata Desa Penglipuran Siap Dibuka Kembali

  • Whatsapp
OBJEK Wisata Desa Penglipuran kini dibuka kembali mulai Sabtu (17/10/2020). Foto: gia
OBJEK Wisata Desa Penglipuran kini dibuka kembali mulai Sabtu (17/10/2020). Foto: gia

BANGLI – Sempat ditutup beberapa waktu, Objek Wisata Desa Penglipuran kini dibuka kembali mulai Sabtu (17/10/2020). Hal tersebut sesuai hasil verifikasi dan sertifikasi tatanan kehidupan era baru bidang pariwisata dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli, juga keputusan rapat paruman Desa Adat Penglipuran, Rabu (14/10/2020) tentang pembukaan aktivitas kepariwisataan di Penglipuran.

“Ini dibuka tentu dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan,” kata Ketua Badan Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng, Kamis (15/10/2020).

Bacaan Lainnya

Penerapan protokol kesehatan (prokes), sebutnya, bukan semata menyediakan fasilitas tempat cuci tangan dan disinfektan, tapi pengelola juga menyiapkan petugas untuk mengawasi pengunjung agar mengikuti prokes. Petugas itu juga berperan sebagai pemandu, karena kemungkinan tidak semua warga siap. Ada beberapa rumah belum siap dikunjungi, maka pemandu yang akan membantu pengunjung.

Terkait kunjungan, terangnya, dalam satu kelompok tidak lebih dari 25 orang. Akan ada pula pengaturan jarak, sehingga kelompok satu dengan lainnya tidak akan berbenturan. Jika mau masuk ke rumah penduduk juga dibatasi hanya lima orang, untuk teknisnya sudah dimatangkan agar dalam penerapan bisa berjalan lancar.

Baca juga :  Tekan Transmisi Lokal, Jalur Pintu Masuk Bali Diperketat

Lebih jauh diutarakan, mulai 4 September lalu dilaksanakan uji coba dibuka dengan menerapkan prokes dengan ketat. Sebelum menerima kunjungan wisatawan, imbuhnya, antara lain mempersiapkan prokes dengan adaptasi kehidupan era baru agar masyarakat benar-benar siap menjalankan.

Disinggung terkait kebijakan Pemkab Bangli menggratiskan wisatawan ke objek wisata di Bangli, dia menyebut Penglipuran berbeda dengan objek wisata alam seperti Penelokan. Sebab, Penglipuran milik desa adat. Sebelum ada tiket retribusi dari Disparbud Bangli, desa adat akan tetap memungut dana punia untuk biaya operasional.

“Kalau tidak memungut retribusi, di mana kami mendapat dana untuk biaya operasional petugas keamanan, tukang sapu, beli sabun, cuci tangan, disinfektan, APD petugas? Mudah-mudah hal tersebut tidak terjadi, pandemi Covid-19 agar cepat berlalu dan pariwisata bisa bangkit kembali,” harapnya. 028 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.