Nyepi Adat di Desa Ngis Berlangsung Setengah Hari

  • Whatsapp
Suasana Nyepi desa adat di Desa Adat Ngis, Kecamatan Abang, Karangasem, Senin (24/2/2020).
Suasana Nyepi desa adat di Desa Adat Ngis, Kecamatan Abang, Karangasem, Senin (24/2/2020).

KARANGASEM – Pada umumnya hari raya Nyepi umat Hindu jatuh pada pinanggal apisan Sasih Kadasa (bulan ke-10 kalender Bali). Sehari sebelumya pada Tilem Kasanga yang dikenal dengan istilah “pangrupukan” dilaksanakan upacara tawur atau mecaru. Selain upacara Nyepi yang umum tersebut, di beberapa desa di Bali terdapat tradisi Nyepi yang berlaku khusus di desa adat yang bersangkutan. Nyepi seperti ini dilaksanakan pada hari rahinan tertentu.

Salah satu desa yang memiliki tradisi Nyepi adat yakni Desa Adat Ngis, Desa Tribuana, Kecamatan Abang Karangasem seperti yang berlangsung pada Senin (24/2/2020). I Gede Sulingga, warga Ngis Kelod, Desa Adat Ngis, mengatakan, untuk di Desa Adat Ngis, Nyepi dalam tiap tahun digelar dua kali. Pertama, Nyepi adat dilaksanakan sehari usai pecaruan Tilem Kaulu (bulan ke-8 kalender Bali). Yang kedua, Nyepi pada umumnya yakni pada Sasih Kadasa.

Bacaan Lainnya

“Sasih Kaulu merupakan ritual pecaruan ageng digelar di Pura Puseh Desa Pakraman Ngis, puncaknya ada Tilem Kaulu dan besoknya setelah pecaruan warga melakukan Catur Brata Penyepian layaknya Nyepi pada umumnya, yakni amati gni, amati lelungan, amati karya, amati lelangon. Hanya saja waktu penyepian dilakukan dari pukul 06.00 pagi sampai jam 12.00 siang,” ungkap Gede Sulingga, Senin (24/2/2020).

Baca juga :  Kemenhub Siapkan Penerbangan ke dan dari Bali dengan New Normal

Sulingga melanjutkan, dari sisi makna, dengan segala bentuk bakti pecaruan yang digelar di Pura Puseh sehari sebelum, Nyepi merupakan bukti keikhlasan terhdap Ida Sasuhunan. Persiapan semuanya mulai dari urunan dan kesepakatan mengeluarkan barang-barang perlengkapan untuk pecaruan. Mulai dari ayam caru manca lima, bahkan sebelum mecaru digelar tabuh rah adu ayam jantan yang disebut cak-cakan.

Dalam tradisi ini, masing-masing warga yang tercatat masuk ayahan desa wajib kena satu ekor ayam untuk diadu. Kemudian daging ayam yang kalah dalam tabuh rah tersebut diolah pada saat pecaruan, dimasak untuk dimakan bersama atau istilahnya “magibung”.

“Ini sudah merupakan warisan turun-temurun dilakukan dalam mempertahankan tradisi dan juga demi keselarasan alam sekala dan niskala Desa Pakraman Ngis,” pungkas Gede Sulingga. 017

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.