Ngurah Suryawan: Persoalan Palemahan-Pawongan, Tantangan Besar Desa Adat

  • Whatsapp
ANTROPOLOG Ngurah Suryawan. foto: ist

DENPASAR – Desa adat atau dulu disebut desa pakraman di Bali dalam penyelenggaraannya berpedoman pada konsep Tri Hita Karana (THK). THK berarti tiga penyebab kebahagiaan, yang terdiri atas parhyangan (lingkungan rohani), pawongan (lingkungan sosial), dan palemahan (lingkungan alam).

Menurut antropolog I Ngurah Suryawan, tantangan desa adat yang paling besar saat ini adalah persoalan-persoalan menyangkut palemahan dan pawongan. “Sekarang yang menjadi tantangan sangat besar soal lingkungan (alam) dan sesama manusia itu,” ucap dosen Universitas Warmadewa ini saat ditemui di Denpasar, belum lama ini.

Bacaan Lainnya

Soal palemahan, dia menjelaskan, kelestarian lingkungan hidup mesti diperhatikan mengingat masifnya perkembangan industri pariwisata di Bali yang sangat berdampak terhadap alam Bali.

Dikatakannya, ekspansi kapital khususnya dalam sektor pariwisata sudah menyentuh ke desa-desa hingga pelosok Bali. Misalnya, bertumbuhnya akomodasi pariwisata yang berpotensi merusak kelestarian lingkungan. Begitu pula pertumbuhan permukiman penduduk. “Jadi, desa adat harus memproteksi ruang-ruang itu,” ujarnya.

Selanjutnya, soal hubungan sesama manusia. Ngurah menjelaskan, hendaknya rasa kebersamaan krama adat dijaga dan ditingkatkan, terlebih di tengah situasi saat ini. Menurutnya, desa adat perlu lebih memperhatikan keberagaman. Jangan menyingkirkan saudara (krama) di desa seperti sanksi adat kasepekang dan sebagainya.

Baca juga :  2021, Gubernur Koster Bakal Seimbangkan Struktur Ekonomi Bali

“Ini menjadi api dalam sekam. Karena banyak misalnya krama melangsungkan kremasi dengan saudara saja (karena sanksi adat). Itu problem kecil dalam praktik keseharian, tetapi harus dituntaskan,” katanya.

Dia menekankan, keberagaman yang ada di desa adat hendaknya dikelola dengan baik sehingga meminimalisasi timbulnya konflik sosial di tengah krama Bali sendiri maupun hubungan dengan warga agama lain maupun pendatang dari luar Bali.

Ngurah Suryawan berpendapat, desa adat harus beradaptasi dengan perubahan yang ada. Tidak mungkin harus ajeg, tetap, dan tidak berubah. Menurutnya, ‘ajeg’ Bali itu harusnya adaptif dan hybrid, artinya menerima berbagai pengaruh yang kemudian memperkaya dirinya.

“Tantangan yang dihadapi orang Bali untuk memperkuat wawasan dan pengetahuannya agar dengan itu bisa menentukan sikap di tengah perubahan yang ada. Dengan demikian Bali bisa terus dilihat dengan berbagai kekayaannya,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan, kebudayaan khususnya kebudayaan Bali sebenarnya mendapat pengaruh dari banyak kebudayaan yang lain. Bukan hanya pengaruh dari India dan agama Hindu, tetapi juga dari Tionghoa-China dan kebudayaan lainnya. “Kalau kita melihat apa yang menjadi asli dari kebudayaan Bali, sebenarnya itu hanya mimpi,” ucap lulusan S3 Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Ngurah menambahkan, ke depan desa adat juga harus berani kritis terhadap negara. Desa adat harus menjaga sifat aslinya sebagai desa yang otonom dan independen. “Dan selama ini hal itu tidak terjadi. Desa adat jangan dijadikan alat untuk kepentingan kekuasaan,” tegasnya mengingatkan. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.