Mengolah Tanah dan Halaman untuk Kebangkitan Ekonomi Bangli

  • Whatsapp
DISKUSI bersama Peradah (DIPA) Bangli #6 yang digelar secara daring. Foto: eri
DISKUSI bersama Peradah (DIPA) Bangli #6 yang digelar secara daring. Foto: eri

BANGLI – Pandemi Covid-19 bukan hanya menebar ancaman krisis. Bagi sejumlah orang yang berpikir optimistis, pandemi adalah jalan yang baik untuk mengukuhkan peluang eksis. Mengolah tanah dan natah (halaman) secara tepat dan benar menjadi upaya yang patut ditempuh agar bisa keluar dari bayang-bayang krisis akibat pandemi.

Khusus bagi Bangli, kabupaten dengan geografis potensial pengembangan pertanian, pengelolaan yang tepat dan benar terhadap dua entitas ruang itu diyakini dapat mengantarkannya sebagai kekuatan ekonomi baru di Bali. ‘’Pandemi adalah kesempatan Bangli untuk bangkit. Pandemi hadir menguji mentalitas masyarakat dan pemerintah. Pandemi akan menguji Bangli, apakah akan selalu berdalih tangan menengadah? Apakah mewarisi mentalitas petarung atau memang belum mampu (mengelola potensi)?’’ kata petani muda Bangli, I Putu Edi Swastawan, dalam diskusi daring yang digelar DPK Peradah Indonesia Bangli, Sabtu (13/6).

Edi yang tengah menempuh pendidikan Magister Agribisnis di Universitas Udayana, menjelaskan bahwa agribisnis sangat berpeluang membawa Bangli sebagai daerah sejahtera. Hanya saja, selama ini potensi itu tidak tergarap dengan baik. Sektor produksi dan pasar tidak terhubung dengan baik. Kondisi ini diperparah dengan minat generasi mudanya yang terus menyusut terjun di dunia pertanian.

Baca juga :  Tuding Ada Masalah Internal, AMPG Desak Musda Golkar Gianyar Ditunda

Dalam hal menghubungkan pasar dengan ranah produksi, petani muda yang juga tergabung dalam Komunitas Kintamani Youth Farm ini menilai, media sosial dapat mengambil peran besar. Marketing dengan mengandalkan akses internet yang tidak terbatas dengan ongkos yang relatif murah dipandang sebagai strategi yang menjanjikan di masa depan.

‘’Kita juga perlu branding baru. Agar petani tampak lebih keren, mungkin bisa diganti dengan istilah pengusaha tani sehingga akan diminati generasi muda dan meninggalkan stigma kolotnya pertanian. Anak muda Bangli juga harus punya role model petani yang baik,’’ tandas pemuda yang juga merupakan kader DPK Peradah Indonesia Bangli ini.

Dalam diskusi yang dipandu langsung Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli, IK Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur), turut hadir Owner/CEO Mupubati Farm, Dwitra J. Ariana. Petani muda yang juga seniman film dokumenter asal Jeruk Mancingan, Susut ini bersepakat soal perlunya role model bagi pemuda agar kembali lagi bertani.

Baca juga :  Ciptakan Pariwisata Denpasar Aman Covid-19, Disparda Terapkan Sertifikasi Protokol Kesehatan

‘’Bagi saya, bertani itu memiliki masa depan. Selama manusia masih punya perut, mereka masih membutuhkan makan, sehingga pertanian wajib hadir,’’ kata pria yang akrab dipanggil Dadap ini.

Dituturkannya, selama hampir 3,5 tahun bergerak di sektor pertanian, pihaknya memang terus berupaya mengubah stigma petani yang miskin dan tradisional. Langkah-langkah yang dilakukannya pun tak hanya sebatas wacana yang selesai di panggung orasi. Kampanye-kampanye yang dilakukan lebih banyak ke praktik-praktik nyata untuk menggerakkan masyarakat.

‘’Di desa saya, dalam beberapa tahun ke belakang saya melihat penduduk usia 30-50 tahun telah kehilangan keahliannya dalam mengolah lahan. Itu karena mereka sempat terjun penuh ke sektor pariwisata, yang kemudian semakin menurun dalam beberapa tahun terakhir,’’ jelasnya.

Baca juga :  Pemkab Karangasem Pantau Pekerja Migran yang Pulang

“Keruntuhan pariwisata” yang berpadu dengan hilangnya keahlian mengolah lahan memicu tidak efektifnya pemberdayaan lahan. Lahan-lahan pertanian hanya hanya ditumbuhi semak liar, ruput gajah, dan kayu. Sementara, para pemiliknya berperan sebagai buruh disamping peternak sapi.

‘’Tanah-tanah di sekitar sini akhirnya tak produktif, kemudian dikontrakkan untuk ditanami kayu-kayu besar. Akibatnya, bagian bawahnya tidak lagi dapat ditanami tanaman pangan. Di sinilah saya kemudian memberanikan diri dengan mengontrak tanah-tanah itu dengan harga relatif lebih tinggi dibandingkan harga kontrakan yang hanya akan ditanami kayu,’’ tuturnya.

Sejak saat itu, ia memulai membersihkan kembali lahan-lahan kurang produktif. Usahanya pun mulai menampakkan hasil, dan kini banyak orang yang mengikuti langkahnya. ‘’Jujur saja saya tidak mau berkampanye, namun mereka saya harapkan bisa meniru. Mereka tidak lagi mengontrakkan, tapi bisa mengolah lahan untuk bisa kembali produktif,’’ tutupnya. 015

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.