Meditasi Mengantarkan Krama Bali Sehat

  • Whatsapp

Oleh Dr. I Made Agus Gelgel Wirasuta

BELAKANGAN ini Bali banyak dilanda hoax dari virus Corona yang sedang mewabah, bahkan pejabat ombudsman Bali meminta kepala dinas kesehatan provinsi Bali, jujur mengungkapkan fakta, apakah ada kasus Corona virus di Bali. Media sosial menebar hoax seolah-olah Bali sudah terjangkit Corona virus.

Bacaan Lainnya

Terlebih lagi kasus turis China dilaporkan terjangkit Corona virus sepulang berlibur dari Bali. Rumah sakit Sanglah, sebagai rumah sakit rujukan menyampaikan sampai saat ini belum ditemukan kasus Corona virus.
Penyakit virus umumnya disebabkan lemahnya daya tahan tubuh.

Pertanyaan muncul apakah daya tahan tubuh orang Bali secara rata-rata baik, sehingga seolah-olah kebal dari virus Corona? Mungkin juga tidak terlalu benar jika mengatakan, Krama Bali kebal virus Corona. Semoga atas sih ide betare sami, Bali dijauhkan dari virus Corona, atau belum ditemukan penyebaran virus tersebut di Gumi Bali.

Tidak salah disini saya mengulas pengaruh semadi atau meditasi terhadap kesehatan Krama Bali. Semeton Bali paling tidak sekali bahkan tiga kali melakukan pemujaan Trisandya. Saat Trisandya dimulai dengan pranayama, dalam pranayama, dilakukan pengaturan nafas, yaitu a) Puraka (Tarik Nafas), dengan mantra: Om Ang Namah;

Baca juga :  Tukang Suwun Positif Covid-19 Akhirnya Dirawat di RS PTN Unud, 20 Orang yang Sempat Kontak Akan Dites

b) Kumbaka (Tahan Nafas), dengan mantra:Om Ung Namah; dan c) Recaka (Keluarkan Nafas) : Om Mang Namah. Pranayama dilakukan dalam tiga kali. Rupanya Krama Bali mengucapkan 9 kali kata Om setiap kali melakukan Trisandya.

Banyak penelitian telah dilakukan oleh ahli syaraf atau ahli kedokteran lainnya, meneliti manfaat meditasi bagi kesehatan. Meditasi dapat melakukan perubahan pada persepsi, perhatian dan cognitive seseorang. Penelitian mempelajari perubahan syaraf akibat meditasi menggunakan alat kedokteran modern seperti: perekam elektrophisiologi atau EEG, MRI atau alat-alat spektroskopi lainnya.

Khusus alat elektrophisiologi (EP) melakukan perekaman terhadap sensory evoked potential (EPs) adalah gelombang elektronik sistem saraf dan otak akibat stimulus yang diberikan. EPs dimanfaatkan sebagai test diagnosis untuk melihat fungsi otak dalam menjelaskan fungsi sistem saraf.

Para ahli melaporkan, gelombang EPs seseorang yang rutin melakukan meditasi lebih panjang amplitudonya jika dibandingkan dengan mereka yang tidak sama sekali melakukan meditasi. Aplitodo gelombang EPs orang yang stres biasanya sangat pendek, orang seperti ini sering gelisah dan tidak stabil, berbeda dengan orang yang rutin melakukan meditasi amplitode gelombang EPs-nya menjadi panjang dan terlihat lebih tenang dan mudah mengendalikan diri.

Meditasi melalui pranayama meningkatkan kemampuan paru-paru mengambil oksigen dan mensuplai oksigen yang sangat tinggi keseluruh tubuh. Sel-sel tubuh akan kaya oksigen dan terjadi pencegayan reaksi oksidatif stess (ROS) di tingkat selular. Dunia kedokteran sudah banyak mengungkap bahwa ROS sebagai pemicu berbagai penyakit metabolisme, seperti menurunnya sistem kekebalan tubuh, hipertensi, diabeter, alergi, dan lainnya.

Baca juga :  Gering Agung Covid-19, ‘’Ngeneng Ngening Sekala lan Niskala”

Para ahli yoga di India telah membuktikan dengan meditasi pranayama mampu meningkatkan suplai oksigen seluler, sehingga mampu mencegah terjadinya ROS pada sel dan dengan sendirinya meningkatkan kekebalan tubuh.

Krama Bali melakukan Trisandya layaknya tiga kali sehari, berarti sehari melakukan pranayama minimal sembilan kali, dan mengucapkan mantram Om sebanyak 81 kali. Kekuatan pranayama telah memelihara kesehatan Semeton Bali.

Laporan penelitian jua menemukan vibrasi mantram Om yang diucapkan dengan sungguh-sungguh dan mendalam mampu mempanjang amplitudo gelombang EPs lebih cepat. Rangsangan audio mantram Om sangatlah dasiat dalam memperbaiki sistem syaraf.

Universitas Yoga Swami Vivekananda di Bengaluru, India, telah membuktikan berbagai terapi penyembuhan melalui Yoga. Krama Bali dengan tekun mengajak dari siswa SD, SMP, SMA melakukan Trisandya sebelum dan setelah memulai pembelajaran, dan membina pranayama yang benar, berarti Semeton Bali telah mengajarkan hidup sehat dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Mungkin juga pranayama sebelum Trisandya telah membantu peningkatan kekebalan tubuh Krama Bali. Om awignam astu namah sidham. Semoga pikiran baik datang dari segala arah. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.