“TAWARAN” dari PDIP kepada partai lain untuk membuat koalisi besar, menjadi salah satu opsi yang dilirik Partai Golkar dalam di Pilkada Serentak 2024 di Bali. Meski “turun tingkat” ke posisi 3 di Bali, tapi Golkar percaya diri tetap seksi dirangkul untuk jadi mesin politik peminat calon kepala daerah. Bagaimana manuver Golkar untuk tetap mendapat bagian kekuasaan? Apa latar belakang Golkar “genit” mencalonkan Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, di Pilgub Bali meski yang bersangkutan menyatakan “tidak berani” ke politik praksis? Berikut petikan wawancara wartawan POS BALI, Gus Hendra, dengan Korwil Pemenangan Pemilu Bali-Nusra DPP Partai Golkar, Gde Sumarjaya Linggih, beberapa waktu lalu.
Golkar melorot ke ranking 3 di Bali, bagaimana target di Pilkada?
– Di beberapa kabupaten sebenarnya malah naik, meski memang ada juga yang turun. Misalnya Badung naik 2 kursi, Buleleng lumayan. Daerah lain agak berat Golkar, bergantung kemampuan caleg. Kalau partai ya masih punya nama karena ada basis massa tradisional meski tidak signifikan.
– Kami masih percaya diri betul dengan kekuatan di masing-masing daerah dari antusiasme bacalon menghubungi Golkar, masih ada simpati, Golkar kendaraan seksi. PDIP biasanya kader plus kader, yang paling seksi setelah PDIP ya Golkar bagi teman yang independen. Kami paling demokratis dan boleh berimprovisasi banyak.
Pak Sugawa Korry ingin KIM bisa lanjut ke daerah untuk Pilkada. DPP melihat bagaimana?
– Golkar dalam Pilkada 2020 dapat 60 persen, Pileg juga naik, Pilpres menang yang didukung. Keempat kali juga ingin prestasi Pilkada Serentak 2024 bisa naik lagi. Caranya dengan dengarkan aspirasi rakyat. Ketua Umum bilang akan survei pasangan mana paling cocok untuk Golkar, sehingga dipilih masyarakat. Sangat mungkin dengan yang lain, bisa saja dengan PDIP. Apalagi dari dulu tidak ada linier (antara pusat dan daerah), bergantung kondisi daerah.
Pak Koster menyatakan PDIP membuka pintu bagi partai lain untuk koalisi besar, bagaimana posisi Golkar?
– Partai kami terbuka sangat terbuka, apalagi banyak di Bali kurang dari 20 persen. Yang lebih saja banyak komunikasi dengan partai lain, apalagi yang kurang. Kalau tidak begitu tidak bisa mencalonkan calon, jadi sangat terbuka kolaborasi dengan yang lain, termasuk dengan PDIP.
Sudah komunikasi dengan Pak Koster?
– Ya baru di atas-atas saja, di kedalaman belum (tertawa). Zaman sekarang istilah oposisi atau partai pemerintah susah dibedakan (tertawa).
Turunnya suara Golkar di Bali karena ada dinamika internal saat penyusunan DCS antara kubu Anda dan Pak Sugawa. Bisa solid lagi nggak untuk Pilkada?
– Bukan konflik sebenarnya, itu dinamika pencalonan yang sangat demokratis. Ada teman-teman yang diposisikan yang mereka belum siap, waktu pendek, dan belum siap pindah. Ini mengadu ke Jakarta, di sana kami sikapi bersama. Bali sampai seminggu, ya ada adu argumen, sudut pandang, Bali paling alot. Waktu itu ada persoalan, tapi setelah itu kan…(terkekeh).
Ada rencana rekonsiliasi karena ada faksi-faksi?
– Faksi di semua partai ada. Katanya PDIP solid, saya yakin dan dengar tidak solidnya antara satu dengan yang lain. Sangat terbiasa kami di Golkar (ada dinamika) dan akan diselesaikan tatanan manajemen yang baik.
Apa artinya akan ada rekonsiliasi?
– Rekonsiliasi itu ketika partai sudah memutuskan bersama. Yang pasti kami ingin meningkatkan kemenangan di Pilkada selanjutnya.
Kenapa survei oleh DPP tapi yang bayar para calon?
– Kalau mau jadi kandidat ya harus siap, ini pemilihan langsung. Survei itu kecil kalau memang mau maju pilkada, sekitar Rp150 juta. Pilkada minimum Rp5 miliar habis untuk biaya politik, bukan membeli suara. Ada survei, saksi, tim pemenangan, makan. Survei akan meyakinkan untuk langkah-langkah selanjutnya, apa strateginya. Survei itu justru mengurangi biaya kampanye.
Pj. Gubernur Sang Made Mahendra Jaya masuk daftar untuk dicalonkan ke Pilgub, tapi beliau menyatakan belum mau. Kok kesannya Golkar genit sekali mencalonkan orang tidak mau?
– Itu usulan daerah, ya kami calonkan di survei. Kan masih banyak yang disurvei. Kalau ternyata di survei itu kuat, ya kami komunikasi. Kalau tidak kuat ya kami gugurkan. Kader pun kami gugurkan kalau tidak kuat supaya tidak bebani partai.
Apa Golkar tidak numpang popularitas Pj. Gubernur saja?
– Memang partai perlu popularitas, makanya pasang bendera dan baliho supaya populer. Dalam politik, tidak mungkin elektabilitas melebihi popularitas. Kalau tidak tahu masa dipilih? Secara partai bagus karena beliau harum namanya. Di medsos yang bicara, bukan saya ngarang sendiri.
Apa istimewanya Pj. Gubernur di mata Golkar sampai namanya dimasukkan survei?
– Kalau yang namanya mencapai jenderal, itu sulit. Dari disiplinnya, kerjanya, sekolahnya, sempat juga jadi staf khusus Mendagri tentang pemerintahan. Saya rasa pengalaman itu cukup.
Golkar juga menggaungkan untuk “membajak” Giri Prasta ke Pilgub, itu murni aspirasi atau mau gertak PDIP?
– Segala kemungkinan bisa terjadi. Sampai saat ini Golkar ada Prabowo-Gibran, seninya di situ. Kalau terjadi begitu (Giri dicalonkan) kita lihat dalam perjalanan. Golkar ingin akomodasi hati rakyat.
Di mata Golkar, Giri Prasta calon ideal?
– Ya kita lihat di survei.
Kalau surveinya bagus?
– Bergantung orangnya, mau berteman atau bermusuhan? Bergantung negosiasi, tempatnya dan sebagainya. Semua calon yang berpotensi kami usahakan ajak komunikasi. Siapa tahu kami bisa punya yang lebih kuat. Kan tidak bisa juga Golkar mencalonkan sendiri (karena kursinya tidak cukup) misalnya Rai Mantra-Sumarjaya Linggih, terus Giri Prasta-Pj. Gubernur. Kan tidak mungkin.
Petahana PDIP sangat kuat di Gianyar, Golkar lebih potensi jadi pendamping atau pesaing?
– Sangat dinamis. Kita lihat kondisi dan situasi dan survei. Kami mau bergabung tapi kalau tidak diajak bagaimana? (tertawa). Harus ada komunikasi dulu. (*)
























