Kemiskinan Kultural Penghalang Wujudkan Nol Kemiskinan di Karangasem

BUPATI Karangasem, I Gede Dana, dan Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa ikut turun langsung memberi pemahaman sosialisasi mewujudkan kemiskinan ekstrem 0 persen tahun 2024 di Balai Banjar Gulinten, Bunutan; dan di Balai Banjar Bau Kangin, Desa Nawakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Selasa (28/11/2023). Foto: ist
BUPATI Karangasem, I Gede Dana, dan Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa ikut turun langsung memberi pemahaman sosialisasi mewujudkan kemiskinan ekstrem 0 persen tahun 2024 di Balai Banjar Gulinten, Bunutan; dan di Balai Banjar Bau Kangin, Desa Nawakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Selasa (28/11/2023). Foto: ist

POSMERDEKA.COM, KARANGASEM – Upaya konvergensi Pemkab dengan Kementerian Agama, PHDI dan MDA Karangasem dalam sosialisasi kemiskinan kultural, dianggap penting dalam mewujudkan kemiskinan ekstrem 0 persen tahun 2024. Bupati Karangasem, I Gede Dana, dan Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa ikut turun langsung memberi pemahaman sosialisasi ini.

Salah satu sosialisasi yang dihadiri di Balai Banjar Gulinten, Bunutan; dan di Balai Banjar Bau Kangin, Desa Nawakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Selasa (28/11/2023). Usai sosialisasi, Pemkab juga menyiapkan 100 paket sembako di masing-masing tempat, untuk dibagikan kepada masyarakat kurang mampu, yang diserahkan Bupati Dana bersama Artha Dipa.

Bacaan Lainnya

Bupati Dana mengungkapkan, kemiskinan kultural adalah bentuk kemiskinan yang disebabkan budaya dan kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Budaya dan kebiasaan tersebut dapat berupa foya-foya, malas, tidak punya etos kerja, tidak mau belajar, tidak mau berubah, atau tidak mau berpartisipasi dalam pembangunan. Kemiskinan kultural dapat menurunkan motivasi dan potensi seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan lingkungan. Karena itu, penting mengetahui cara mengatasi kemiskinan kultural yang membangkitkan motivasi dan potensi.

“Kemiskinan kultural adalah ketika kita hidup di lingkungan yang tidak mendukung untuk maju dan sukses. Lingkungan kita mungkin punya budaya dan kebiasaan yang tidak baik, seperti boros, malas, tidak mau belajar, tidak mau berubah, atau tidak mau ikut pembangunan. Budaya dan kebiasaan ini bisa membuat kita tidak punya motivasi dan potensi untuk meningkatkan hidup,” pesannya.

Baca juga :  Awal Tahun, di Bangli Tercatat 19 Kasus Demam Berdarah

Dana menambahkan, kemiskinan kultural perlu diatasi agar angka kemiskinan tidak semakin bertambah, meningkatkan kualitas hidup dan masyarakat, menghindari konflik sosial dan pertumbuhan ekonomi yang lambat.

Artha Dipa menambahkan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemiskinan kultural, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat itu sendiri. Dia mencontohkan, selain dengan sosialisasi atau pemahaman mengenai  kemiskinan kultural itu sendiri, juga dengan memberi bantuan ekonomi. Termasuk pelatihan dan pendidikan, fasilitas sosial yang diikuti dengan dukungan psikososial, pengakuan, dan juga penghargaan.

Dana maupun Artha Dipa minta masyarakat dapat menyimak dengan baik sosialisasi yang diberikan, dan dapat menyampaikan pertanyaan atau pendapat untuk permasalahan yang dimiliki. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Majelis Desa Adat, PHDI dan Kementerian Agama Kabupaten Karangasem yang ikut bersinergi menuntaskan angka kemiskinan melalui sosialisasi ini. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.