Jelang Galungan, Peradah Bali“Ngejot” kepada 50 Lansia Miskin

  • Whatsapp
SEMBAKO - Penyerahan sembako kepada salah satu lansia dalam kegiatan “ngejot” oleh Peradah Bali.
SEMBAKO - Penyerahan sembako kepada salah satu lansia dalam kegiatan “ngejot” oleh Peradah Bali.

BULELENG – Menjelang perayaan suci Galungan dan Kuningan, Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Peradah Indonesia Bali menggelar kegiatan ngejot (berbagi). Agenda rutin yang digelar setiap 6 bulan sekali ini menyasar 50 lansia miskin yang tersebar di Desa Banyuning dan Desa Banjar, Kabupaten Buleleng pada 13 dan 16 Februari 2020. Dalam kegiatan ini, Peradah ngejot berupa sembako untuk kebutuhan hari raya.

Ketua DPP Peradah Indonesia Bali, Komang Agus Widiantara, menjelaskan, pemuda Hindu dibawah naungan Peradah Bali memaknai perayaan suci Galungan dan Kuningan dilakukan dengan cara berbagi antarsesama (pawongan). Kegiatan berbagi dikemas dalam acara ngejot. Menurutnya ngejot merupakan tradisi berbagi dan kearifan lokal di Bali. Ngejot, kata dia, mulai terkikis ditengah budaya konsumtif, hedonis, dan individual menguat di tengah masyarakat Bali.

Bacaan Lainnya

“Spirit ngejot ingin kita bangkitkan melalui program kerja organisasi. Ngejot memiliki makna mendalam bagi kultur masyarakat Bali. Tak sebatas sumbangan tapi eling (ingat, red) dengan semeton khususnya kurang mampu,”kata Agus, Minggu (16/2/2020) usai menggelar ngejot di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng.

Lebih jauh, kata dia, perayaan Galungan yang identik dengan persembahyangan dan perayaan penyambutan yang kerap penuh gegap gempita, ‘pesta kuliner’ hingga hiburan coba diliterasi melalui nilai dan kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan sosial ala ngejot oleh Peradah Bali. Menurutnya, kontekstual perayaan Galungan terkesan lebih banyak dilakukan konsumtif dan hura-hura.

Baca juga :  KPU Tabanan Berlakukan Prokes Saat Pendaftaran Paslon

Hal senada juga ditambahkan oleh Ketua DPK Peradah Buleleng I Made Bagus Andi Purnomo. Ngejot yang kali ini diagendakan Peradah Bali di Buleleng sangat penting untuk mengedukasi generasi muda dan organ Hindu yang terlibat agar perayaan suci Galungan tidak semata berorientasi pada parahyangan, tapi juga pawongan. “Agama akan bernilai jika ada tindakan konkret. Ngejotsalah satunya,” tambahnya.

Ketua Yowana Manca Agung Provinsi Bali Dewa Alit Swastika yang terlibat dalam kegiatan ngejot kali ini bersyukur bisa berkolaborasi dan gerakan sosial tersebut. Menurutnya kegiatan inimerupakan kerjasama kedua kalinya dalam kegiatan ngejot bersama Peradah Bali. “Kami meskipun organ pasemetonan, namun terbuka dengan berbagai program sosial untuk masyarakat dan umat Hindu di Bali,” ucapnya.026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.