Demi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi, Masyarakat Bali Sampai Jual Mainan Anak-anaknya

  • Whatsapp
WAKIL Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace). Foto: ist
WAKIL Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace). Foto: ist

MANGUPURA – Kondisi pariwisata Bali serta para pelaku usahanya hingga masyarakat umum berada pada titik memprihatinkan. Mereka terdampak paling parah akibat pandemi Covid-19, sehingga perekonomian Bali mengalami kontraksi paling parah diantara provinsi lainnya di Indonesia.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace), mengutarakan hal itu saat membuka Festival Pandawa X dan Kontes Bonsai Nusantara The Max Under 30 cm di Pantai Pandawa, Desa Adat Kutuh, Badung, Rabu (15/12/2021).

Bacaan Lainnya

Cok Ace mengatakan, sejak pandemi ini terjadi pada medio Maret 2020, pariwisata Bali benar-benar memprihatinkan, dan begitu miris. Awalnya, lanjut dia, masyarakat Bali masih bisa bertahan, namun kebelakang sudah semakin memburuk. Dari awalnya menjual barang-barang yang dianggap kurang perlu, sampai ada yang menjual mainan anak-anaknya.

“Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka sampai harus menjual mainan milik anak yang mereka sayangi, yang harganya juga tidak seberapa. Inilah yang menjadi tantangan kita dan harus kita jawab,’’ ungkap Wagub.

Menyikapi kondisi tersebut, Cok Ace menuturkan bahwa dia bersama Gubernur Bali, Wayan Koster, telah memperjuangkan kondisi Bali terutama sektor pariwisata yang menjadi tumpuan masyarakat Bali, agar bisa sedikit bernapas dengan meraih sedikit kucuran rupiah dari para wisatawan di penghujung tahun 2021. ‘’Karena penghujung tahun menjadi salah satu peluang, di mana para wisatawan menghabiskan waktu liburannya untuk berwisata salah satunya di Bali,’’ tutur Cok Ace.

Baca juga :  Hamzi Hamzar Desak KLU Miliki Kodim

Menurutnya, dia sempat menyampaikan rasa keberatan langsung kepada pemerintah pusat, terkait kondisi Bali yang masih menyandang status level 3, sedangkan kriteria-kriteria untuk dinyatakan pada level tersebut sudah terlewati, dan kondisi Bali sudah semakin kondusif dari penyebaran pandemi. ‘’Saya sempat sampaikan, Pak Menteri saya keberatan kalau di Bali dibilang PPKM level 3. Karena level 3, sesungguhnya adalah sebuah gambaran kondisi yang terjadi di suatu wilayah di mana kondisi penyebaran pandemi Covid-19-nya masuk daftar tinggi, tingkat angka yang terinfeksi tinggi, BOR (bed occupancy rasio) di rumah sakit tinggi dan lain sebagainya, ada kriteria-kriteria tertentu, sedangkan di Bali kan kondisinya sudah stabil, penyebaran rendah dan sebagainya,’’ ungkapnya.

Lanjutnya, keberatan itu karena dengan sebutan level 3 sesungguhnya memberikan kesan negatif terhadap pasar khususnya di luar negeri, membuat mereka bertanya apa yang terjadi di Bali. ‘’Bali yang sudah level 2, tiba-tiba di penghujung tahun kembali ke level 3, ini yang kita perjuangkan pertama, dan astungkara akhirnya bisa diubah status tersebut menjadi kembali ke level dua,’’ bebernya.

Cok Ace juga menjelaskan terkait pernyataan yang menyebut Bali akan pulih dari pandemi dalam kurun waktu 3 – 4 tahun ke depan. Ia menilai masyarakat Bali tidak bisa hanya diam selama kurun waktu pemuliham tersebut. Mengingat lebih dari 50 persen masyarakat Bali telah bergantung pada sektor pariwisata. Untuk itu, ke depan dirancang pengembangan sektor lainnya beriringan dengan sektor pariwisata menuju ketahanan ekonomi Bali yang lebih baik.

Baca juga :  Wawali Arya Wibawa Serap Aspirasi Warga Kelurahan Dauh Puri

‘’Menjawab tantangan tersebut, kami telah mengajukan dua strategi target yang harus kita lakukan menyikapi kondisi saat ini. Pertama, yakni bagaimana kita meningkatkan daya tahan Bali, dan yang kedua, pengembangan daya saing Bali,’’ katanya menandaskan. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.